Mencatat menulis untuk uang

Menulis untuk uang adalah kesia-siaan sejak awal. Kau kehilangan dirimu yang sejati dalam citra apa pun yang kau kehendaki.

Begitu uang menjadi tujuan, sesuatu yang luhur mulai tergeser. Kau tidak lagi menulis, kau hanya memproduksi. Ada jurang yang tidak bisa dikompromi yang memisahkan keduanya.

Aku pun sempat berada dalam ketersesatan itu cukup lama. Menulis tulisan yang dibayar dalam hitungan per kata. Kupikir akan cukup untuk mencapai kehidupan yang baik-baik saja (dalam definisi masyarakat apa pun). Sayangnya, kenyataan menunjukkan wajah sebaliknya.

Aku menjadi budak dari majikan yang tidak kelihatan wujudnya. Majikan itu bernama pasar.

Dan pasar, seperti yang sudah kau tahu, tidak peduli apakah kau sedang menuliskan sesuatu yang jujur atau bohong. Pasar hanya butuh klik, baca sampai habis, dan kalau bisa, bagikan. Maka tanpa sadar aku mulai menulis judul yang menggelitik rasa ingin tahu murahan. Aku memilih topik tulisan hanya karena majikanku sedang menyukainya minggu ini.

Menulis untuk uang tidak berbeda dengan menyalakan obor. Kau dapat melihat satu-dua langkah ke depan, di saat bersamaan terpaksa kompromi bahwa api lambat-laun akan memakan sumbernya. Habis. Lenyap. Tak ada sisa jejaknya.

Uang dan tulisan bisa berjalan beriringan, tapi tidak bisa saling menjadi alasan. Seperti dua orang yang berteman baik asalkan tidak ada yang mencoba memperalat yang lain. Begitu salah satunya kau gunakan sebagai kendaraan, persahabatan itu retak dengan cara yang sulit diperbaiki.

Kau barangkali dapat memanfaatkan sedikit uang yang datang untuk membeli rokok demi bisa menulis untuk sedikit uang berikutnya. Kesia-siaan yang kumaksud akan kau pahami dengan membaca ulang tulisan itu, bahwa kau tidak menemukan dirimu di sana.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi