Mencatat jalan buntu

Aku akan berubah menjadi tikus dan mengubah semua jalan menjadi jalan tikus. Pun jika tidak ada jalan yang terbuka, tikus mampu menjadikannya ada. Kepercayaan diri yang kelewat brutal itu membuatnya terus menggali semua kemungkinan yang disangka mustahil oleh manusia. Tikus tidak mengenal pasrah. Pun kalau ada, kepasrahannya yang paling masuk akal akan berbentuk semacam perjuangan menggali tanah, dan tidak ada yang lain.

Lain tikus got, tikus berdasi.

Aku cukuplah tangguh atas banyak ujian, sehingga alih-alih tikus tanah yang membentuk jalan tikus, justru lebih mendekati apa yang disebut tikus percobaan. Jangan salah. Tikus percobaan merupakan individu pilihan yang lebih menonjol daripada lainnya untuk menjalani serangkaian penyiksaan tanpa akhir.

Di sana tidak akan muncul jalan keluar, jalan tikus.

Aku hidup dalam semesta kotak kaca yang terbatas. Terpilih hanya untuk menerima ujian menyakitkan. Jika berhasil, ujian menyakitkan lainnya akan menanti. Jika gagal, namaku hanya akan menjadi nama di arsip yang tidak akan dibaca.

Jalan tikus dalam semesta hidup manusia adalah jalan keluar. Sedang yang kutemui selama ini tidak lebih dari anak tangga yang terlalu tinggi. Aku mesti berjinjit hanya agar ujung jari menggapainya. Di sisi kiri dan kanan menganga kekelaman tak berdasar. Rasanya kaki dan tanganku telah sampai pada usaha paling purna. Rasanya, akan lebih mudah jika kubiarkan diri ini terkulai ke samping kiri atau kanan, mana saja tidak masalah, dan berakhir pada nganga itu.

Saat jatuh ke sana, aku akan mencoba menumbuhkan harapan akan ada tangan raksasa yang lembut dan hangat, dan bercahaya, yang membantuku naik lagi dengan ajaib.

Ketika aku berpikir bahwa aku akan berubah menjadi tikus dan mengubah semua jalan menjadi jalan tikus. Namun pikiran itu seketika menemui jalan buntu.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi