Mencatat keputusasaan kreatif
Aku tak tahu istilah yang tepat untuk mewakili perasaan putus asa setelah membaca tulisan yang kelewat bagus. Jadi, tidak masalah dalam catatan pribadi di blog pribadi ini kusebut saja sebagai keputusasaan kreatif.
Setelah duduk lama di warung kopi, aku menyadari bahwa kita semua tidak pernah kehabisan bahan bacaan. Ada begitu banyak tulisan-tulisan bagus yang dengan lugas dapat aku temukan di internet. Gratis, tentu saja, itu yang terpenting sekarang.
Tulisan-tulisan yang kumaksudkan tersebar di situs web yang menerima tulisan. Ambil seperti Mojok, Basabasi, dan lebih banyak dari blog gratisan yang memuat tulisan yang telah dibukukan atau diterbitkan koran.
Yang terakhir agaknya kurang etis. Aku dapat beralasan bahwa usaha berdarah-darah dan mati-matian yang kukerahkan belum juga mampu mengangkat aku dari kemelaratan.
Aku membacai dua esai Bandung Mawardi di Basabasi. Tidak melanjutkan yang ketiga hanya karena tidak mampu. Sudah berada di titik yang kita sepakati di awal sebagai keputusasaan kreatif. Dua esai itu membuatku terdiam lebih lama daripada waktu yang kuhabiskan untuk membacanya.
Tulisannya ringkas dan padat keparat. Menunjukkan betapa luas bacaan Bandung dalam menulisnya.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika harus membaca sepuluh buku dulu sekadar untuk menulis sebuah catatan pendek tentang suatu topik.
Dan pamungkasnya, esai itu menjelma cermin benggala. Tampak di sana tulisan-tulisanku yang sialnya hanya berangkat dari keadaan sehari-hari semata.
Aku jatuh pada kerendahan diri dan keputusasaan dalam penulisan. Aku mungkin tidak akan menulis lagi selamanya. Sedangkan catatan ini dapatlah kau anggap semacam kencing pesing yang tidak berarti apa-apa.
Agaknya benar bahwa menulis harus didahului dengan membaca sebagaimana salat harus didahului dengan bersuci.
Aku masih menganggap iqra... dalam wahyu pertama Rasulullah SAW jugalah membaca keadaan. Jadi masih sah-sah saja kalau-kalau sebuah tulisan hanya berlandaskan sehari-hari.
Namun, hasilnya menurutku kurang memuaskan. Semakin kubacai tulisanku, semakin aku tenggelam dalam keputusasaan kreatif itu.
Sejak pertama, membaca esai Bandung Mawardi lantas sekonyong membandingkan dengan tulisan curhatan sendiri, sudah purna keliru.
Tidak berhenti di esai. Bentuk lain seperti cerpen dan puisi, memunculkan gap jurang menganga begitu rupa. Warnanya hitam belaka. Tulisan-tulisanku berada di dasar jurang itu.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi