Menikmati sore mancing di atas jembatan ditemani Yoshikawa Advisor
Jam mancingku kini sudah jauh berkurang. Dulu, sehari bisa tiga kali. Sekarang, seminggu mungkin sekali.
Tetapi aku masih memiliki keyakinan bahwa seiring berkurangnya sengkarut di dalam kepala, jam mancingku juga turut pulih seperti semula.
Dalam seminggu sekali atau dua kali itu. Setiap menit terasa lebih berarti. Sehingga, aku tidak akan menghabiskannya dengan melamun saja. Aku akan melihat sekitar, merasakan angin, semut yang merambat di kaki, hangatnya matahari sore, dan sambaran kecil yang kelihatan dari ujung joran.
Yoshikawa Advisor panjang 360 cm. Ini merupakan kategori joran kolong pabrik, bukan custom dari pengrajin.
Cukup untuk menemani menghabiskan waktu sore yang sedikit itu.

Berasal dari rasa penasaran
Yoshikawa Advisor bukanlah joran pancing yang populer seperti saudaranya Yoshikawa ZE atau Yoshikawa R-Version. Review dari toko online pun buruk.
Dan betulan saja, pengalaman pakai joran ini tidak nyaman-nyaman amat.
Aku lebih suka pakai joran travel telescopic sepanjang 210 cm untuk mancing di sungai. Atau, pakai joran andalan Jianghome custom ceramic 270 yang ringan dan pas di pegangan.
Selebihnya, aku hanya penasaran. Apakah sama-sama seperti Ogawa Kudalaut yang sudah kolongan dari pabrik.
Kompromi dengan joran kolongan kurang nyaman
Aku mancing di sungai kecil menggunakan tegek kolong pabrikan sepanjang 360 itu saja sudah keliru. Tetapi tunggu dulu, aku juga menggunakannya di lokasi yang lebih luas seperti bekas galpas.
Rasanya tetap kurang nyaman saja. Kamu bisa tetap pakai tegek kolong ini asalkan mau kompromi dengan beberapa hal.
1. Berat
Bobotnya cukup berat. Akan kubahas lebih lengkap tentang beratnya (dalam satuan gram) di catatan yang lain. Alangkah lebih ringan Yehang 360 yang kita kasih ring kolongan sendiri.
2. Panjang 360
Panjang 360 sebenarnya tidak masalah, yang menjadi persoalan adalah tidak adanya sistem zoom. Kita sering mancing di sungai kecil bahkan pakai tegek 450 yang mana memiliki zoom system. Sehingga mau kita ulur panjang 2 meter pun tetap oke.
Bagian yang tidak kita keluarkan akan menjadi tambahan beban tumpu yang membuat pegangan belakang menjadi lebih ringan.
3. Kaku
Kalau aku bandingkan dengan tegek-tegek lain, sebenarnya Yoshikawa Advisor masuk kategori medium-hard. Hanya saja, ruas tengah itu terlalu lembek. Hasilnya sungguh disayangkan, kombinasinya membuat semua ruas mentul-mentul. Ikan wader dan ikan kecil lain niscaya tidak akan terasa tarikannya.
4. Harga
Selanjutnya, kompromi berikutnya terkait harga yang relatif mahal --terutama bagiku. Detail kecil seperti tutup bawah yang berbahan plastik menambah lebih banyak hal yang harus kita kompromi. Belum lagi ring guide gampang lepas lemnya, atau stiker merek "Yoshikawa" yang berada di handle juga gampang lepas.
Mengabaikan semua kompromi, waktu terus berjalan
Sore ini, aku tidak ingin terlalu banyak membahas kompromi-kompromi yang hanya akan berujung pada penyesalan. Waktu sore terus berjalan, artinya jam mancing semakin berkurang.
Memancing tidak perlu memikirkan alat yang kita gunakan. Asal memancing ikan, lalu menikmatinya dengan sungguh-sungguh.
Semakin banyak keinginan, semakin dekat kita dengan jurang penderitaan.
Terlepas dari semua itu, tegek kolong Yoshikawa Advisor telah mau menemaniku dalam waktu-waktu sekali seminggu. Yang kemungkinan besar ini adalah kali terakhir, sebab sudah aku posting di grup mancing.
Hehe... Rasa penasaranku sudah terbayarkan dalam waktu-waktu itu. Sekarang, aku mau pakai joran lain yang lebih nyaman!
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi