Mencatat ban motor bocor
Malam ini pukul sembilan kurang dua menit lumayan dingin. Apalagi sekarang aku tengah berada di jalan persawahan yang sepi. Lupa bawa jaket. Siapa yang menyangka kepergianku pagi tadi harus pulang hingga larut malam seperti ini.
Sekira seratus meter di depan adalah permakaman umum. Cukup ngeri kalau-kalau harus menuntun sepeda motor melewatinya sendiri. Hanya saja, belakangan aku memiliki keberanian ganjil bahwa ada yang lebih menakutkan daripada hantu-hantu.
Aku maju ke depan. Mengamati lamat-lamat nisan yang teronggok diam-berlumut di sana. Tidak ada apa-apa selain kesunyian. Langit rasanya juga lebih gelap dari biasanya. Ternyata bulan bersembunyi, malu-malu menunjukkan semburat kuning tipis yang melengkung hampir sempurna.
Seratus meter lagi ada rumah yang masih menyala lampunya. Bermodal nekat kusapa seorang bapak yang khusyuk-masyuk menonton pertandingan bola di televisi. Ia melambaikan tangan. Kupikir itu isyarat agar aku menunggu. Sembari membenarkan sarung yang kendor ia berjalan mendekat.
Tidak perlu basa-basi di sini. Kusampaikan maksud-tujuan dengan sejujur-jujurnya. Bahwa aku hendak meminjam pompa angin dan bertanya apakah ada tambal ban yang masih buka malam. Ia manggut-manggut menenangkan. Sepertinya kabar baik. Katanya pompa angin akan dicarinya ke belakang dan memang ada tambal ban yang masih buka hingga malam. Dengan perhatian yang hangat, ia pegangi selang agar angin masuk. Ini merupakan pompa tua, katanya, dan membutuhkan perlakuan khusus. Aku katakan bahwa aku menyesal dan minta maaf karena merepotkan. Katanya bukan masalah.
Aku kembali ke arah sebaliknya mengikuti petunjuk dari bapak itu setelah mengucapkan terima kasih. Kulewati lagi permakaman yang tadi. Masih sunyi saja, tidak ada yang berubah. Mereka di bawah sana barangkali lebih damai daripada aku yang di atas sini.
Akhirnya ketemu juga, tambal ban rumahan yang masih menerima pasien. Ia adalah seorang anak SMP yang cekatan, mengeluarkan ban belakang dengan keterampilan yang tampak jelas bukan pemula. Kufoto ban motor tersebut yang kemudian terkirim ke dua orang penerima. Satu hanya dibaca, satunya lagi menanyakan lokasi. Baiklah, tidak ada yang perlu aku tanggapi. Aku hanya perlu menunggu anak ini menyelesaikan pekerjaannya, membayar, lalu pulang dan tidur.
Namun, persoalan terbesarnya adalah pada yang kedua. Membayar membutuhkan uang, dan benda keparat itu merupakan sesuatu yang belum kupunya.
Pikiranku semakin kalut dan perutku yang lapar telah berubah menjadi kelaparan. Tanpa kusadari kedua tangan ini gemetar. Motor butut sialan! Pajak mati, bensin tinggal setetes, ban bocor, lampu redup, oli belum ganti, yang semuanya diperparah saat istriku hanya membaca pesan tanpa membalasnya.
Tidak ada yang bisa diharapkan dari lelaki seperti ini. Aku pun juga beranggapan seperti itu.
Beberapa bentar tangan cekatan anak SMP menyelesaikan prosesi penambalan ban yang bocor. Kukatakan bahwa aku akan meninggalkan ponsel, kemudian membayar esok hari atau lusa setelah lewat jalan ini lagi. Ia menolaknya. Aku bersikeras untuk meninggalkan ponsel dengan kejujuran yang menyerupai pengemisan. Ia malah bersikeras untuk meminta aku membayar saat lewat jalan ini lagi entah esok hari, lusa, atau kapan saja tanpa perlu meninggalkan ponsel sama sekali.
Berhubung anak itu terlalu memaksa, akhirnya kuturuti sembari mengucap terima kasih lagi. Menolak kebaikan sama dengan menolak rezeki. Kata ustazku dulu pas masih ngaji di masjid sebelah rumah, hal semacam itu tidak baik. Orang lain bisa tersinggung, dan jika orang lain tersinggung karena ditolak saat memberi kebaikan maka Allah akan marah. Ustazku tidak main-main mengatakannya. Kemarahan Allah adalah musibah terbesar dunia-akhirat yang mustahil ada obatnya. Ia juga menasihatiku untuk melakukan apa saja asalkan Allah tidak marah, dan itu sudah cukup.
Sepertinya hari ini aku lumayan banyak berterima kasih lantaran menerima bertubi-tubi kebaikan. Hal semacam ini, kemelaratan dan kejadian tak terduga, sebenarnya hanyalah persoalan kecil yang umum. Faktor lain itulah yang membuatnya semakin parah dan terasa begitu jahanam.
Dan faktor lain yang kumaksud dapat bersumber dari sesepele pesan hanya dibaca tanpa dibalas.
Melewati permakaman ketiga kalinya aku berpikir, barangkali kepulanganku akan menjadi lebih berarti untuk keluarga jika kepulangan itu jugalah kepergian.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi