Mencatat malam sepi

Aku telah akrab dengan kretek. Kuning di antara jari tengah dan telunjuk. Hijau daun pohon-pohon berusia puluhan tahun. Beberapa lebih tua dari usiaku. Hitam langit dengan butiran bintang samar.
Aku telah akrab dengan asap putih yang membumbung sedang lalu menghilang. Noda di layar ponsel yang malas kubersihkan. Sandal jepit warna hijau tua. Celana pendek dengan kelangkang berlubang. Nyeri punggung setelah memancing seharian.
Aku telah akrab dengan bayangan. Gatal di dengkul bekas tabrakan. Kopi hitam yang selalu saja sudah dingin. Empat gelas bekas kopi hari ini yang belum kucuci.
Aku telah akrab dengan senandung indah layang-layang yang dibiarkan terbang larut malam. Tangga bambu yang teronggok diam. Tetesan air yang menimbulkan suara tik-tik-tik membentur sampah plastik. Keran yang sudah longgar. Pompa air yang tiba-tiba menyala sendiri tengah malam.
Aku telah akrab dengan rewel anak perempuan usia dua setengah tahun. Marah yang harus kukeluarkan sebagai formalitas. Penyesalan yang datang setelahnya. Kelucuan saat ia tertidur. Dengkuran katak di luar sana setelah seharian diajak bermain.
Aku telah akrab dengan papan tik njepat. Pinggiran layar berwarna merah. Baterai habis. Membaca tulisan baik dan buruk. Memikirkan upaya untuk kesejahteraan padahal hanya jalan di tempat.
Aku telah akrab dengan anggapan remeh orang-orang. Tatapan mata yang memancarkan ketidakpercayaan. Anggur merah basi empat hari lalu. Tikar pesing yang belum pernah dicuci sejak dibeli.
Aku telah akrab dengan telepon berdering puluhan kali. Caci maki orang-orang yang tidak kukenal. Catatan utang yang membuat kepalaku selalu berdenyut. Kekhawatiran setiap kali bangun tidur. Ketakutan setiap kali mau tidur.
Aku telah akrab dengan nasihat tentang kebajikan. Bangun pagi agar rezeki tidak dipatok ayam. Bulu hidung tercabut saat mengupil. Suara motor lewat yang selalu membuyarkan apa yang mau kutulis.
Aku telah akrab dengan ajakan untuk kegiatan negatif. Kencing di kantor organisasi. Permintaan maaf untuk tidak mengulangi. Kenakalan remaja yang selalu mengulangi.
Aku telah akrab dengan mengagumi tulisan orang. Mengutuk tulisan sendiri. Membakar sampah bekas tulisan. Melihat api membersihkan keburukan.
Aku telah akrab dengan lambaian tangan tanda selamat tinggal. Jalan pulang yang panjang. Beberapa jembatan yang kalinya tercemar.
Aku telah akrab dengan imajinasi nakal. Kelamnya pikiran. Roda kehidupan tak mau berputar. Mengulangi siklus memuakkan.
Aku telah akrab dengan kesendirian. Di malam yang dingin. Di siang yang terik kadang hujan. Di pagi yang kesiangan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi