Mencatat cerpen cabul
Setelah salat magrib di warung kopi pinggir kali yang sungguh disayangkan tidak kubawa pancing. Itulah kali pertama aku mendapat kejelasan apa yang akan kubahas dalam catatan ini tentang cerpen cabul. Kami hanya berdua, satu seorang pemancing ikan yang tersesat di tengah kemelut kemelaratan; satunya lagi seorang penulis betulan yang selalu mampu membuat pembicaraan melebar ke mana-mana.
Aku melempar umpan, itulah nama Enny Arrow dan Fredy S. Penulis itu menyambar umpan dengan menanggapi bahwa ada banyak penulis-penulis lain sebelum maupun sesudah mereka jika yang sedang dibicarakan merupakan cerpen cabul. Ia mengatakan beberapa penulis abad sembilan belas yang namanya sudah jelas mustahil bisa kuingat.
Umpan ketiga kulempar. Kutanya bagaimana jika Eka Kurniawan. Penulis itu enggan mengabaikan. Menyeletuk bahwa Eka tidak brutal, justru menyampaikan kesan erotis dengan elegan. Ia mengulang kata kesan beberapa kali sampai kupikir erotisme bukan esensi dari cerita Eka Kurniawan.
Saat itu masih muncul kebingungan, apakah lebih cocok menyebut cerita semacam itu sebagai cerpen cabul, cerpen erotis, cerpen dewasa, atau cerpen stensil. Ia menanggapi bahwa cerpen stensil tidak sama dengan cerpen cabul, sebab stensil sendiri merupakan semacam mesin untuk mencetak teks di atas kertas. Jujur, aku baru tahu itu.
Lalu keluar kelakar yang sangat langka dari penulis itu. Ia merupakan penulis murung yang tidak pernah tertawa, apalagi dengan terbahak-bahak. Bahwa akan lebih cocok menyebut model cerita seperti itu sebagai cerpen porno. Secara harfiah, ia katakan begitu. Tidak perlu tirai untuk menutupi karena umpan pertama dan kedua memang menyampaikan porno terang-benderang seperti kebenaran agama. Dan aku belum memiliki keberanian untuk menyebut cerpen porno, jadi sejak saat itu kusebut sebagai cerpen cabul.
Sempat pula ia bahas proses kreatif penulisan cerita mestinya tidak bertujuan untuk mencari uang. Sebab, hukum alam, lanjutnya, uang niscaya akan selalu menghindari jika dikejar. Itu semacam bidang magnet yang memiliki kutub sama. Di mana manusia yang material mestinya tidak mengejar sesuatu yang sama-sama material. Aku memandang hamparan sawah di jauh sana, serta gunung yang diselimuti awan, sembari mencerna apa yang barusan ia katakan. Kata-kata sulit mirip kerikil yang masuk lambung.
Bukankah di dunia ini tidak semua penulis melarat, tanyaku kemudian. Ia membenarkan, bahwa ada juga penulis yang sejahtera, cukup banyak malah. Penulis yang demikian menurutnya sejak awal memang tidak menjadikan uang sebagai tujuan. Atau memang tujuan, tetapi tersamarkan. Ia menjelaskan bahwa tujuan menulis haruslah luhur sebagaimana menulis itu sendiri. Misalnya tujuan untuk menyampaikan kebenaran seperti tujuan-tujuan para orang suci. Ada juga tujuan yang lebih realistis seperti membangunkan rumah untuk anak istri. Atau menulis hanya agar bisa naik haji. Tujuan yang demikian lebih luhur, dan uang merupakan sebab yang harus ada dengan alami tanpa menjadi tujuan itu sendiri.
Apakah tujuan sama dengan niat, tanyaku lagi. Ia mengatakan bisa juga disamakan. Dan aku merenung bahwa niatku, atau tujuanku, selama ini dangkal belaka. Menulis hanya untuk bertahan hidup, benar-benar kering, seolah tanpa menulis aku tidak bisa hidup. Apalagi diafirmasi dengan anggapan hanyalah menulis sesuatu yang kubisa. Itu semakin konyol.
Kemudian irisan antara tujuan luhur menulis, serta menulis cerpen cabul, seolah adalah sesuatu yang saling bertolak-belakang. Bagaimana mungkin penulis akan menulis tulisan najis dengan cara suci? Aku tak habis pikir dengan hal itu. Lagi-lagi, penulis ini memberi contoh yang aneh tentang seorang penulis masa lalu yang sengaja menulis cabul hanya agar tulisannya tidak dijadikan contoh untuk tindak kejahatan. Kekhawatiran yang ganjil, pikirku, bisa jadi ia tidak menulis kriminal karena memang hasratnya akan porno lebih besar daripada lainnya.
Ia belum mengatakan apa-apa. Tatapannya jatuh terlalu dalam di kali yang sudah hitam. Terbawa alirannya sampai hilir. Sayup-sayup mengatakan bahwa niat di dalam hati seseorang tidak ada yang tahu. Manusia terlalu rumit untuk dipahami, apalagi diremehkan tentang hasratnya. Untuk yang terakhir kali itu aku setuju. Kata-katanya seolah membawa pesan penulis Blora dengan akhir ...pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. Barangkali ia sengaja menghindar untuk membenarkan atau menyalahkan penulis yang menulis cerpen cabul. Angkat tangan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi