Mencatat masa lalu
Hehe...
Aku perlu ketawa miris yang penuh paradoks tidak jelas. Apakah harus sedih atau senang ketika membaca tulisan-tulisanku di masa lalu.
Aku mungkin saja tidak perlu memilih antara keduanya. Sebab, merasakan semuanya pun bukan masalah. Baiklah.
Aku senang karena dulu (hingga sekarang) memegang prinsip penting nulis, sehingga kenangan yang benar-benar nyaris terlupa dari masa lalu memiliki jembatan keledai untuk mengunjunginya melalui tulisan. Meski sebagian besar dari kenangan yang lain rasa-rasanya sudah benar-benar hilang.
Aku juga sedih karena tulisan-tulisan dari masa lalu begitu berantakan. Jika kauanggap tulisanku sekarang masih berantakan, percayalah tulisanku dulu jauh lebih berantakan dari ini. Sangat berantakan. Hingga kata 'berantakan' itu sendiri tidak mampu mewakilkan.
Aku dulu menulis tanpa aturan. Tulisanku serupa hewan liar yang lepas tali lehernya. Sebuah kalimat rancu sangat mungkin menghancurkan fondasi argumen yang sudah lebih dulu dibangun sebelumnya. Atau, sebuah kalimat rancu lain yang akan merusak alur, sehingga sebuah tulisan mampu membuat perut mual di samping tidak bisa dipahami isinya. Itu bukan berarti sekarang aku menulis dengan aturan.
Aku tetap merasa perlu menyampaikan bahwa menulis haruslah sebebas-bebasnya dan sejujur-jujurnya. Pun kalau perlu bohong, setidaknya setiap tulisan benar-benar ditulis sendiri. Sebohong apa pun tulisanmu, asal itu kautulis sendiri, akan tetap ada kau di dalam tulisan itu. Tidak garing, kering, kosong seperti tulisan kecerdasan buatan. Dalam hal ini, yang kumaksud tentu tulisan tentang kejadian sehari-hari, semacam pengalaman, serupa dengan buku harian. Bukan tulisan-tulisan penting yang perlu diketahui banyak orang.
Sekarang lihatlah kembali catatan yang barusan kaubaca ini. Ada tujuh paragraf, yang mana hanya satu saja yang tidak diawali dengan 'aku'. Sialnya, paragraf yang tidak diawali 'aku' hanyalah satu kata tidak baku, "Hehe...". Begitulah, berbicara tentang masa lalu akan selalu tentang masa laluku. Begitulah, mencatat masa lalu akan selalu jatuh pada ke-aku-an.
Di sisi lain, ternyata aku merasa agak menyesal atas beberapa hal. Pertama, seharusnya tulisanku di blog saat SMA dahulu kala tidak hilang. Tulisan zaman baheula yang berisi catatan harian tentang cinta monyet yang begitu terang benderang menjijikkan dan memuakkan. Meski begitu, aku mustahil bisa menulisnya lagi kini. Pun kalau bisa, rasa dan kekacauan yang ada di dalamnya tidak akan pernah sama.
Kedua, seharusnya sejak dulu aku membaca lebih banyak, entah buku, artikel, atau tulisan para bloger. Membaca --tulisan sejelek apa pun-- tetap memberi manfaat, atau setidaknya menambah perbendaharaan kata kita. Tentu saja dengan kompromi mual perut karena pengaruh tulisan jelek benar-benar bisa sampai ke sana.
Ketiga, seharusnya dulu aku tidak memaki tulisan orang di depan wajah orangnya langsung bahwa tulisannya jelek sekali yang tidak layak dibaca selain dalam keadaan mabuk. Barangkali dulu hatiku sangat keras, hingga luput kusadari ada beberapa orang yang berhenti menulis karena ulahku. Bagian ini murni penyesalan karena menyakiti hati orang. Dan kalau membicarakan perihal tulisan jelek. Di usia tiga puluh ini aku menyadari justru tulisanku malahan yang benar-benar jelek itu. Ini dibuktikan dari bergunung-gunung penolakan dari penerbit dan redaktur surat kabar.
Setelah semuanya, mencatat masa lalu seharusnya sudah cukup dengan "Hehe...", tetapi sekarang tidak ada yang kupunya selain kenangan samar itu. Sungguh, aku ingin menulis masa lalu dengan ledakan yang lebih meriah.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi