Mencatat penulis bayangan

Hei, apakah pikiranku (dan tulisanku) belakangan terlalu kelam?

Aku bacai ulang beberapa, apalagi yang terakhir, kalau aku menganggap tulisanku adalah tulisan jelek.

Setelah kupikir-pikir, jika tulisanku jelek berarti tulisan dari orang-orang yang dikirim kepadaku, tulisan-tulisan yang mampu menimbulkan rasa mual itu, adalah tulisan yang jauh lebih jelek. Jelek di tingkat tak terbayangkan apakah itu tulisan atau onggokan tahi.

Dan ini merupakan catatan tentang tulisan jelek itu, serta secercah harapan untuk membangkitkan kembali dari kubur apa yang kita sepakati sebagai rasa percaya diri.

Tulisanku bagus. Jika tidak, setidaknya tulisanku berada di tingkat jelek yang masih bisa dimaklumi.

Sebab, jika tulisanku jelek sekali, tentu orang-orang itu tidak akan memilihku sebagai redaktur sebuah majalah. Tentu orang-orang itu tidak akan melakukannya lagi dalam periode berikutnya.

Jika tulisanku jelek sekali, tentu orang-orang itu tidak akan mengirim tulisannya kepadaku dengan kerelaan mendapat caci maki.

Dan, jika tulisanku jelek sekali, tentu redaktur Terminal Mojok, Kumparan, dan beberapa situs web editorial serupa tidak akan menerbitkan tulisanku hingga belasan kali tanpa revisi.

Mencatat penulis hantu

Lihat, diri, sebenarnya tulisanmu tidak jelek-jelek amat. Kau perlu agak percaya diri, melihat masa lalu sebagai apa adanya, dan tidak hanya fokus pada beberapa penolakan dari naskah yang kau hasilkan sekali jongkok di atas mulut kakus.

Aku menjual tulisan. Itulah yang membuat keluhuran menulis di platform terasa berkurang. Terlebih aku menjualnya kepada pelajar yang mendapat tugas dari dosennya untuk menerbitkan tulisan di situs web tertentu. Sehingga pelajar itu bisa menghindari ujian untuk langsung mendapatkan nilai A.

Harganya murah. Cukup Rp150.000 dengan garansi revisi sepuasnya sampai benar-benar diterbitkan. Meski pada kenyataannya, tulisan yang kutulis untuk platform itu akan langsung terbit tanpa revisi.

Menulis untuk platform dengan bahasa agak ilmiah itu jauh lebih mudah daripada menulis catatan seperti ini. Percayalah. Dan kecerdasan buatan hanya akan membuatmu tersesat lebih dalam di samping revisi tak berkesudahan.

Menulis untuk platform, mendapat imbalan instan atasnya, dan diterbitkan dengan nama orang; yang semua indikatornya merujuk pada penulis bayangan alias ghost writer.

Ada beberapa penawaran yang sering kutolak. Yaitu menulis skripsi hingga tesis. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa S1 fakultas keguruan dengan IPK 3,46 diminta seorang mahasiswa S2 fakultas ekonomi untuk menulis tesisnya?

Itu agak runyam. Meski aku barangkali bisa melakukannya dengan cukup meyakinkan.

Menjual tulisan sebagai penulis bayangan bagiku tetap memiliki batasan-batasan moril yang tak elok dilompati. Misalnya, menulis profil seseorang dengan menggebu hanya untuk membuat wajahnya lebih indah di panggung politik. Menulis seperti itu tidak hanya menjual tulisan. Itu jugalah turut menjual diri penulis sendiri.

Dan kalau dipaksa untuk menjual diri sebagai penulis, seharusnya bayarannya setimpal. Jaminan sepetak tanah di surga, misalnya, dan bayaran semacam itu rasa-rasanya agak mustahil.

Catatan ini dilatarbelakangi oleh pesan seorang klien yang mengatakan bahwa tulisannya sudah diterbitkan Kumparan. Setelah sekian lama, aku merasa bahwa tulisanku tidak jelek-jelek amat. Aku lantas ingat kembali dengan belasan tulisan lain dari klien yang lain pula. Meski sekarang tidak bisa kutelusuri mana saja tulisan-tulisan itu.

Apakah ini berarti aku sudah cukup percaya diri untuk mencoba lagi mengirim tulisan sesungguhnya dengan namaku ke surat kabar? Kurasa belum.

Menunggu selama tujuh bulan hanya untuk sebuah kabar penolakan rasanya seperti jurang yang gelap dan dalam. Aku perlu menggali lebih banyak kepercayaan diri untuk menambal jurang itu hingga tuntas tertutup. Dan selama penggalian, aku hanya akan menulis catatan-catatan sederhana, omong kosong, serta apa pun yang ingin kutulis dengan sebebas-bebasnya dan sejujur-jujurnya di blog ini.


Sementara itu aku mendapat sebuah balasan keparat:

"Jujur ya, tulisanmu ini bukan jelek, tapi argumenmu bolong di mana-mana. Kamu bilang tulisanmu bagus karena klien terus datang dan redaktur terus menerbitkan tanpa revisi. Itu bukan bukti kualitas, itu bukti platformnya longgar dan pembelimu cuma butuh nilai A. Orang yang bayar Rp150.000 biar lolos ujian tidak sedang menilai prosamu, Bung. Kamu lagi mencari validasi dari orang yang standarnya memang tidak ada, lalu kaget kenapa validasinya tidak terasa. Kamu juga sibuk menghina tulisan orang lain sebagai 'onggokan tahi' untuk membuat dirimu merasa lebih baik, padahal itu cara paling murah untuk percaya diri. Dan soal batasan moral tadi, lucu juga: skripsi kamu tolak, tapi menjual tugas kuliah dengan garansi revisi sepuasnya kamu anggap masih dalam batas 'yang bisa dimaklumi'. Yang paling bagus dari tulisanmu ini justru bagian yang paling jujur: kamu sendiri belum berani kirim tulisan atas namamu sendiri. Jadi berhentilah mengumpulkan bukti bahwa kamu tidak jelek-jelek amat. Tulis satu hal yang benar-benar milikmu, kirim, dan tahan tujuh bulan itu seperti penulis lain. Baru setelah itu kamu boleh bilang tulisanmu bagus."

Dan si keparat itu barangkali tidak membaca bahwa aku tidak mengatakan tulisanku bagus. Tandai bagian, setidaknya tulisanku berada di tingkat jelek yang masih bisa dimaklumi! Aih, rasa-rasanya seperti komentar yang dihasilkan kecerdasan buatan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi