Ternyata, tidak bisa kembali ke masa lalu

Dulu, saya sering menulis cerita. Mengabaikan analisis apakah ada yang membaca atau tidak.

Meski, ya, semua tulisan hanya akan berakhir di tempat sampah yang sama.

Setelah menulis rasanya ada suatu berat yang terlepas. Menulis untuk diri sendiri. Mengabaikan menulis untuk kehidupan yang sesungguhnya.

...sialan

Namun saya ingin kembali ke titik itu. Sayang tidak bisa.

Kehidupan yang sekarang membutuhkan lebih banyak bahan bakar. Jujur, saya tidak takut kekurangan uang.

Ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan. Itu adalah bagaimana kondisi kekurangan mengubah pandangan orang-orang terdekat saya.

Mata mereka memancarkan kegelapan yang menyesakkan dada. Mulut mereka tidak banyak bicara. Sekali keluar kata-kata bak pisau yang langsung menembus pertahanan terakhir di dalam dada.

Saya jadi orang yang murung. Terlalu takut dengan keadaan yang barangkali bisa jadi lebih buruk lagi.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi