Mencatat perempuan

Kau dan aku tak perlu mengharapkan perlakuan baik dari perempuan milik kita jika belum mampu mencukupi kebutuhannya. Anggapan itulah tanggul yang membendung gempuran geram selama ini.

Pada permulaan paling awal, jika belum terlanjur, sebaiknya kaucari perempuan yang terbuka hati dan akalnya. Bukan perempuan kolot yang memegang prinsip bodoh. Perempuan yang sengaja menutup mata dan telinganya pada realita, lantas terus-menerus bersikap aneh yang selalu membuat lelakinya curiga.

Setiap lelaki mampu menahan gempuran gelombang ujian yang menyesakkan pikirannya; kecuali soal perempuan. Sosok perempuan yang benar akan menjadikanmu kuat. Sosok perempuan yang salah akan menjadikanmu terkuat dan tak terkalahkan, atau terkulai dan mampus.

Itulah kenapa perang-perang besar dalam sejarah umat manusia dimulai oleh perempuan. Kau tentu ingat dengan Baratayuda yang menggema di seluruh penjuru dunia, tidak lain diakibatkan geram yang muncul lantaran perempuan bernama Drupadi nyaris ditelanjangi di depan umum. Ada Perang Troya oleh Helen, Pararaton oleh Ken Dedes, dan Perang Bubat oleh Dyah Pitaloka untuk menyebut sebagian dari tonggak awal peperangan oleh sumbu perempuan.

Semuanya belum termasuk perang-perang kecil yang terus berlanjut sampai hari kiamat. Belum termasuk perang di dalam diriku yang sedang berkobar-kobar karena seorang perempuan yang namanya sama sekali tidak dikenal.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi