Mencatat bensin habis
Tabir berlapis, rencana Allah rasanya begitu lembut. Begitulah yang kupikirkan setelah mengalami kehabisan bensin pukul 10.12 malam dan kejadian yang mengikutinya.
Ini hanya catatan pribadi yang palingan, lagi-lagi, jatuh pada ke-aku-an.
Jarum di fuelmeter mengarah ke E merah, yang biasa aku artikan sebagai entek atau habis dalam bahasa Jawa. Namun, entah kenapa selama perjalan tidak ingin berhenti di SPBU yang masih buka.
Motor melaju begitu saja dengan sendirinya. Padahal aku sadar bahwa semakin malam akan semakin sedikit toko kelontong penyedia bensin yang masih buka. Jika kehabisan di tengah jalan, kupikir akan mengakibatkan masalah.
Benar saja. Sembilan kilometer berikutnya setelah memikirkannya, motor benar-benar kehabisan bensin. Mesin mati saat itu juga sebelum jembatan yang di bawahnya mengalir kali lahar Gunung Kelud.
Aku mendorong motor seperti manusia yang kehabisan bensin pada umumnya. Tepat memasuki area jembatan, dari arah sebaliknya ada orang lain yang juga mendorong motor. Aku menyapa bapak-bapak itu, bahwa apakah dia juga kehabisan bensin. Dia tertawa dan aku memahami maksudnya sebelum ikut tertawa. Kami merupakan dua bapak-bapak keras kepala yang menertawai kondisi kehabisan bensin dengan cara aneh.
Seratus meter setelah jembatan, di sisi kiri ada toko kelontong yang sudah tutup. Namun bagian depan toko ada gendul yang biasanya untuk wadah bensin eceran.
Sebagai laki-laki dewasa yang cukup pemberani, aku mengetuk pintunya. Setelah berusaha selama lima isapan rokok, seorang emak-emak gempal keluar sambil menguap.
Aku ingah-ingih sambil bertanya apakah ada bensin. Dia mengucek matanya lalu mengatakan ada. Itu merupakan kabar baik. Dia kembali masuk ke dalam rumah, keluar lagi membawa permintaan, bahwa apakah aku bersedia menunggu karena bensinnya belum diisi ke gendul.
Tanpa jeda, aku mengatakan bahwa akan menunggu dengan senang hati. Aku juga menambahkan bahwa menunggu jauh lebih baik daripada harus mendorong motor sebelas kilometer sisa jarak.
Belum juga habis rokokku, emak-emak itu keluar membawa satu gendul bensin yang lebih tampak seperti cahaya lentera.
Proses pengisian bensin ke tangki berlangsung begitu cepat. Aku mengatakan bahwa minta maaf karena membangunkan orang yang sedang istirahat. Dia menjawab cepat bahwa itu bukan masalah. Ada rasa ramah yang terasa. Emak-emak dalam wujud demikian ternyata tidak menakutkan seperti di film-film.
Lantas, aku bertanya berapa harganya. Dia menjawab dua belas ribu. Aku mengeluarkan lima belas dan mengatakan agar dia menyimpan sisanya.
Dia tetap hendak ke belakang untuk mengambil kembalian. Aku mengatakan dengan nada menyerupai permohonan bahwa saestu. Itu merupakan kata pamungkas untuk menunjukkan 'benar-benar' atau 'sungguh-sungguh'.
Mendengarnya, dia berhenti. Kemudian mengatakan, "Ya Allah, Mas..., matur suwun. Mugi-mugi sehat selaluuu". Aku masih terbayang nada 'u' yang dipanjangkan begitu rupa hingga sampai di rumah dan kutulis catatan ini.
Emak-emak, memberikan doa yang rasanya lembut dan tulus hanya untuk kembalian tiga ribu. Astaga, emak-emak! Engkau ini sangat bersahaja sebagaimana emak-emak lain yang pernah kudorong motornya karena kehabisan bensin. Antara kau dan dia sama-sama bersahaja, memberikan doa yang luar biasa atas sesuatu yang sangat biasa.
Dan itulah kenapa rencana Allah rasanya begitu lembut. Andaikan tadi aku mampir SPBU tidak akan bertemu emak-emak yang mendoakan seperti itu. Dan uangku barangkali hanya akan dikorupsi pejabat keparat.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi