Mencatat njejeg motor
Aku dan kau dalam permulaan ini perlu sepakat bahwa njejeg adalah mendorong motor menggunakan kaki. Sebab, aku belum menemukan padanan kata dengan kekuatan setara dalam bahasa Indonesia yang baku.
Ini masih pukul tujuh, belum terlalu malam, cenderung sore. Aku dalam perjalanan pulang.
Namun sekarang, aku harus berhenti di pinggir jalan di atas sebuah jembatan kecil. Membakar sebatang rokok, lalu menghapus air mata yang terlanjur menjebolkan pertahanan.
Itu karena seorang ibu-ibu yang tengah mendorong motor, sedang jok bagian belakang memuat obrok --kantung besar dari terpal untuk mengangkut barang-barang-- di sebuah jalan mbulak.
Ada dorongan aneh yang memaksaku putar balik setelah melewatinya. Kemudian bertanya apakah dia bisa dijejeg? Dia mengatakan dengan bahasa Jawa krama bahwa saget. Dia lantas melanjutkan dengan mengatakan matursuwun yang maknanya akan lebih mendekati 'terima kasih banyak' alih-alih 'terima kasih', bahkan sebelum aku mulai mendorong motornya.
Selama perjalanan yang sebentar itu, luput kuhitung berapa kali dia mengatakan matursuwun karena terlalu banyak. Itu bukanlah sesuatu yang harus dia katakan berulang kali. Apalagi kepada seorang asing kumal dalam perjalanan pulang yang wajahnya mirip prajurit kalah perang. Sebab, kehabisan bensin di tengah perjalanan itu wajar, dan ada seseorang yang berusaha menolong itu normal.
Dan pamungkasnya ketika keluar mbulak setelah sampai SPBU terdekat. Dia mendoakan aku dengan membabi buta untuk semua yang baik-baik. Doa-doa semacam itu tidak ternilai. Mataku berkaca-kaca yang pada akhirnya jebol juga. Aku berbalik sembari mengatakan harus segera melanjutkan perjalanan. Tanpa diduga, dia kembali membombardir dengan ucapan matursuwun yang kelewat banyak.
Aku khawatir orang itu salah sangka. Menganggapku orang baik meski perbuatanku barusan agaknya memang mengarah ke sana. Tetapi niatku, tidak ada hal tentang kebaikan.
Dorongan pertama kali yang membuatku putar balik, setelah kupikir-pikir, hanya karena aku mengingat ibuku dalam rupa yang hampir sama; sebuah motor sedang jok bagian belakang memuat obrok. Tidak lebih. Bahkan, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku berbuat baik kepada orang lain. Dengan cara ganjil aku membayangkan jika ibuku dalam kondisi itu, batinku tidak akan kuat untuk mengabaikannya.
Tetapi, catatan ini akan merekam pula bahwa ternyata nikmat juga berbuat baik. Kebaikan, rasa-rasanya begitu lembut. Aku mulai suka dengan kebaikan. Memang selalu begitu, aku akan suka dengan hal-hal langka yang tidak banyak orang punya.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi