Mencatat Minggu

Mencatat Minggu

Jika kau melihatku di dunia nyata, kau barangkali tidak akan percaya bahwa sosok yang sedang kaulihati adalah penganggur ulung dengan pikiran rancu dan kelindan sengkarut tak berkesudahan. Itu pula yang menjadi alasan mengapa banyak kenalan yang menganggap aku tengah menguji mereka saat meminta pinjaman uang. Mereka tidak akan percaya aku mengalami masalah yang berkaitan dengan finansial; jangankan mereka, aku pun juga tidak menyangka mengalaminya.

Masing-masing dari kita memiliki mata yang bisa melihat ke atas atau ke bawah. Tetapi, aku lebih memilih untuk melihat ke dalam.

Bahwa, diri ini masih memiliki dua kaki yang bisa berjalan (meski kadang menanggung asam urat. Dua tangan yang bisa menulis (meski tidak selalu bagus, atau selalu tidak bagus; yang mana pun tidak masalah). Dan sebongkah kepala yang di dalamnya masih bersemayam otak yang bekerja (meski hanya bisa mengerjakan dua dari sepuluh soal matematika kelas 11 SMA yang itu pun belum tentu benar).

Minggu pagi ini sekadar ngopi santai di warung kopi biasanya karena bocah dua setengah tahun yang lucunya minta ampun diajak naik kereta kelinci.

Kali ini, aku tidak akan menyalahkan kaki, tangan, atau otak; tak lagi menyalahkan diri. Hari Minggu bolehlah kita anggap sebagai hari libur sebagaimana manusia pada umumnya meski pada hari-hari yang lain tak bedanya dengan hari libur juga.

Mari sulut beberapa batang kretek, mengisapnya dalam-dalam, menyeruput kopi yang masih mengeluarkan uap panas, membiarkan asap rokok dan uap kopi berpilin menjadi uap-uap yang mengatakan bahwa aku tidak peduli.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi