Puisi berjalan sendiri
Pada kartesian,
aku adalah koordinat yang
tidak nyata
sendirian mencari titik asal.
Pada titik asal,
aku adalah pipimu yang
sembab dan merah muda
menjuntai tak hingga.
Pada tak hingga,
matamu adalah rumah teduh yang
memeluk dan meringkuk
terlepas dari sangkela.
Pada sangkela,
kita adalah dua tebing yang
terpisah jurang kenangan
mustahil berpelukan.
Pada berpelukan,
sepi adalah karib paling setia yang
selalu ada di tiap bulir air mata
duka, sengkarut, dan catatan cerita.
Pada cerita,
api adalah akhir untuk semua yang
mengantarkan menuju niskala
di sebuah pojok bagian belakang rumah.
Pada rumah,
ibu adalah sosok malaikat yang
menerima kenangan pulang
utuh dan suci.
Pada suci,
aku adalah lelaki yang
tidak nyata
sendirian menghabiskan kopi.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi