Terlalu banyak
Aku tidak ingat sekarang aku sedang apa. Baru kusadari sekarang aku sedang duduk di sebuah emperan rumah dengan lantai keramik warna merah pukul delapan lebih seperempat malam. Suara kereta melaju begitu rupa lalu menghilang dengan begitu rupa juga. Sebentar aku harus mencopot earphone yang hanya kupakai untuk menyumbat telinga tanpa mengeluarkan suara apa-apa karena seorang tetangga menyapa. Aku sering merasa tidak enak jika mendengar obrolan dari dalam rumah yang seharusnya tidak kudengar sama sekali. Sehingga earphone dapat menjadi salah satu alat pamungkas untuk kamuflase. Aku sedang duduk, dan belakangan ini aku sering melupakan aku sedang melakukan apa. Apakah ini tanda-tanda kalau-kalau mentalku sedang sakit? Dalam keadaan duduk yang tidak aku sadari itu, sempat kubayangkan bahwa jiwa tidak terukur dan sebuah kesalahan kalau-kalau ada yang mengatakan orang sakit jiwa. Jiwaku tidak akan pernah sakit --pun sehat. Jiwa bukanlah sesuatu yang bisa aku lekatkan dengan sesuatu seperti sakit atau sehat. Jika kelak aku benar-benar mengalami sakit mental --atau sakit jiwa dalam bahasa kalian-- itu sebenarnya aku tidak pernah sakit. Dan aku juga tidak pernah sehat. Aku adalah jiwaku sendiri dengan balutan kulit yang dapat kausentuh kalau mau. Aku tidak akan menghindar meski kau menyentuhku dengan telapak tangan kapalan karena itu menjadi bukti kerja keras sekaligus bukti ketidakmampuan negara memberikan kesejahteraan yang lebih baik untuk rakyatnya. Andaikan aku dan kau kembali ke tempat semula. Itulah tempat yang paling sering aku dan kau lupakan. Di tempat itu, kalau kau masih ingat, ada burung yang tidak pernah mengeluarkan tahi karena burung itu tidak memiliki lubang anus. Sungainya pun berwarna putih yang menjadi inspirasi para peminum --dan pemabuk-- untuk menyebut cairan hasil sulingan sebagai anggur putih. Pohonnya memiliki daun kecil yang sangat banyak namun sekali pun tidak pernah ada yang jatuh. Sebab di tempat asal itu semua manusia merupakan majikan. Di sana tidak ada tukang sapu yang mengenakan seragam hijau lusuh lantaran sejak diberikan pada empat tahun lalu tidak pernah dicuci dan setiap hari terkena gempuran debu dan terompet kendaraan yang tidak punya malu. Tukang sapu yang sama yang harus kompromi dengan upah tiga ratus ribu rupiah per bulan untuk menghidupi tiga anak dan seorang suami peminum --dan pemabuk-- yang pekerjaannya hanya membayangkan anggur putih dari tempat kita semua berasal. Atau, kau juga boleh menjabat tanganku dengan tangan kapalan itu sehingga aku akan bangkit dari duduk ini. Sekarang kulit bokongku sudah merasakan kedinginan yang aneh. Bukan berarti bokong tebal itu dapat meredam kedinginan. Rasa dingin dari lantai keramik warna merah yang sekarang pukul delapan lebih dua puluh empat menit tidak mengenal daging bokong. Hanya para laki-laki di perempatan jalan yang akan tetap berada di sana hingga subuh yang mengenal mana bokong bagus dan jelek. Mereka selalu melihat perempuan yang tidak waspada keluar malam naik sepeda motor matik, mengalami lekukan bokong di antara jok motor, dan menilai bagaimana kalau-kalau perempuan itu dalam kondisi menungging penuh dengan kepala di bawah dalam sebuah kamar remang dengan mereka di bagian belakang saat kondisi setengah mabuk. Bokong selalu memiliki daya tariknya sendiri; lebih dari daya tarik yang bisa ditawarkan oleh kinerja otak. Orang yang memandang bokong tidak perlu menggunakan otak untuk memberikan penilaian bagus dan jelek. Setiap sengkarut dapat ditanggung oleh bokong yang tabah. Samar-samar dari sini aku mendengar raung menyakitkan seseorang entah di mana. Aku belum bisa menjaga beberapa kesadaran di satu waktu. Sehingga aku harus mengabaikan bahwa aku sedang duduk di lantai keramik warna merah dan menggantinya dengan kewaspadaan untuk menemukan sumber raungan yng terus menggema. Kutengok ke kiri hanya ada batu, ke kanan hanya ada jendela, ke atas hanya ada cecak yang mau menjatuhkan tahi warna hitam dan putih. Jelas, tempat ini bukanlah tempat asalku di mana para binatang tidak pernah mengeluarkan tahi karena mereka semua tidak memiliki lubang anus. Lantas kutengok ke bawah, raung itu semakin kencang saja. Ternyata benar, setelah aku fokuskan pada dua buah peler utuh menggantung di dalam sarung tanpa celana dalam, raung itu jelas terdengar. Buah peler jugalah sumber dari tulisan ini. Buah peler bisa menjadi sakti meski tidak ada nyamuk yang hinggap di sana. Aku teringat tentang sebuah nasihat yang mengisyaratkan bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan kekerasan yang mengambil analogi seekor nyamuk hinggap di buah peler; tidak akan ada nyamuk yang akan hinggap di sana. Aku dan kau sering dicekoki dengan perumpamaan-perumpamaan dan gambaran-gambaran yang tidak benar-benar dapat kita lihat dan rasai. Seumur-umur aku belum pernah melihat orang terpeleset karena kulit pisang warna kuning dan kancil yang memakan mentimun; begitu pula nyamuk yang hinggap di buah peler --terutama buah pelerku sendiri. Aku cukup percaya diri menulis tentang buah peler sebab buah peler milikku masih utuh berjumlah dua. Aku dekatkan telinga ke buah peler dengan cara yang aneh untuk mendengar lebih jelas raungan-raungan yang bikin risih. Semakin mendekat ke buah peler, raung itu semakin menghilang. Aku berasumsi bahwa sumbernya bukanlah buah pelerku, pasti dari bagian lain tubuhku yang bagaimana pun berada di bawah kepalaku. Oh, akhirnya ketemu... dadaku. Itu adalah suara hati yang mengatakan sudah terlalu banyak sengkarut yang dia tanggung. Suara hati mulai tidak kuat untuk menahan semuanya. Dia sekarang memberontak. Dia ingin melepaskan dan meluapkan suaranya yang memang sudah tepat kusebut sebagai raungan. Hasilnya bisa menjadi semacam air bah raksasa berwarna hitam yang kental dan berlendir. Air itu setinggi empat puluh hasta yang akan menyapu segalanya tanpa sisa. Termasuk apa yang sudah kusampaikan sebelumnya sebagai mental --dan jiwa. Semuanya akan tersapu kalau-kalau suara hati keluar dari dada. Maka aku tenangkan dengan mengelus-elus dadaku sendiri. Sabar... sabar... kataku menenangkan. Suara hati yang masih memiliki ego sebesar batang peler pun tidak mau menerima. Dia semakin bergejolak seperti adonan jenang mendidih. Panasnya pun sampai kulit dadaku. Kalau kaupegang dadaku pakai telapak tangan kapalanmu, panas itu akan tetap terasa. Aku masih duduk di lantai keramik warna merah yang baru aku sadari memiliki corak dengan warna yang lebih terang. Sekarang pukul delapan lebih empat puluh lima dan suara terompet kereta baru saja terdengar lagi. Sayangnya bukan terompet Isrofil sehingga aku dan kau mau tidak mau harus lebih panjang sabarnya. Begitu rupa sabar sesabar bulu di jurang anus. Di sana ada bulu yang tidak pernah mendapat sinar matahari, tidak pernah dilihat orang, dan hanya menerima tahi dalam berbagai bentuk. Dan bulu-bulu itu sekonyong-sembrono tetap mampu tumbuh menjadi lebih panjang. Aku dan kau harus bersabar sepanjang batang peler. Meniru batang peler yang mampu menanggung bulu kemaluan yang ganas; aku dan kau yang mampu menanggung sengkarut yang ganas. Aku dan kau adalah peler yang bertetangga dengan bulu silit puncak kesabaran. Aku dan kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Dalam duduk yang sudah mendekati kesemutan dan tulang punggung membentuk busur melengkung dan mata-merah-pedas-mengantuk; aku terpaksa terus menulis ini hanya karena agar suara dari hati tidak keluar lewat mulut. Aku dan kau tidak perlu mengatakan apa-apa; lain menuliskannya.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi