Mencatat kabar baik orang-orang
Sungguh! Aku bukan merasa tidak senang saat kau mendapat kebahagiaan, tidak mengharap kebahagiaan itu berpindah kepadaku, apalagi mengharap kebahagiaan itu lenyap darimu. Semua pencapaian yang kau sampaikan beberapa waktu tidak mengubahku sama sekali. Justru sebaliknya... sungguh disayangkan... justru sebaliknya...
Pertanyaan itu masih berdengung di telingaku. Mengapa kau dengan begitu terang-terangan malah mengabaikanku? Apakah ada hal-hal yang telah aku lakukan tanpa kusadar telah menyinggung sesuatu di dalam dirimu? Tidak. Itu mustahil. Hampir tiga minggu kita tidak bertemu. Kabar kesuksesanmu tidak lain adalah kabar pertama yang kau sampaikan sejak itu.
Sekarang, kau memiliki cukup banyak teman. Namamu membumbung ke langit. Tergantung di sana. Sedang aku masih duduk di bangku sepi warung kopi yang sama.
Ya, semua itu tidak pernah mengusikku. Aku menulis catatan ini hanya karena sempat kupikir bahwa kau merupakan seorang teman sejati. Bahkan kalau kau menghinaku di tempat umum, berbicara tentang keburukan kepada teman-temanmu di depan maupun belakangku; semuanya juga tidak akan mengusikku.
Tidak ada sesuatu di dunia ini yang dapat menggetarkanku kecuali tulisan-tulisan yang bagus. Atau orang yang berani menceburkan diri sepenuhnya pada perjuangan kemanusiaan. Jika hanya sebiasa materi, bukankah terlalu berlebihan kalau-kalau kau sampai menganggapku iri-dengki?
Ngomong-ngomong, aku juga masih manusia biasa. Aku memiliki ke-iri-an juga, seperti saat membaca tulisan Amato Assagaf, bahwa mengapa ada manusia yang mampu menulis ringkas dengan kedalaman tak terukur? Aku ingin bisa --atau setidaknya-- mendekati tingkat tulisan itu. Pencapaianmu dalam bentuk nominal yang sangat mungkin terukur itu sudah pasti tidak masuk dalam kategori iri semacam ini. Sungguh disayangkan...
Namun, aku yakin manusia memiliki pilihan dan beberapa alasan di balik pilihan itu. Tentu dengan pertimbangan yang menurut mereka logis untuk dijalankan menjadi bagian cerita kehidupan yang panjang. Bisa jadi pertimbangan yang kau ambil terlalu dangkal --atau suram. Semuanya merupakan pilihanmu, dan aku akan memegang pilihanku dengan alasan menganggap angka-angka di rekening adalah sesuatu yang terukur dan terbilang.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi