Mencatat satu dekade

Hari ini sepuluh tahun lalu aku mulai menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Enam tahun kemudian kami menikah, dua tahun setelahnya dikaruniai momongan, dan dua tahun lagi aku menulis catatan ini.

Siapa yang menyangka! Bocah lugu penuh nafsu harus berubah menjadi orang dewasa mati rasa. Dewasa yang diajak bersalaman dengan apa yang kita sepakati sebagai tanggung jawab. Ini juga tidak main-main. Tanggung jawab dunia-akhirat.

Seperti sebelumnya, aku tidak akan menebak-nebak apa yang akan terjadi padaku satu dekade mendatang. Biarkan itu teronggok diam di dasar lautan, yang pada waktunya terangkat muncul ke permukaan.

Tentu, dalam sepuluh tahun ini ada tak terhitung lika-liku; dan catatan ini terasa terlalu ringkih untuk merangkum semuanya. Jika ada waktu yang lebih luang di antara kesibukanku memancing ikan, aku akan mencoba menulisnya dalam catatan panjang.

Lagian, bocah dua tahun yang punya pipi ranum seharum mangga matang ini selalu mendekat --duduk di atas pangkuan-- tatkala aku menghadapi Chromebook. Dia tampaknya tidak rela membiarkanku menulis sendirian.

Ya, aku hampir lupa, bahwa untuk kita yang sekarang bertiga, mari sambut cerita-cerita selanjutnya dalam kehidupan yang fana. Mari bersulang!

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi