Mencatat kehampaan
Aku tidak akan kaget, apalagi marah, mendapati kenyataan bahwa kebanyakan dari orang di sekelilingku lebih senang mendengar kabar kematianku daripada keberhasilanku keluar dari jurang keterpurukan. Tidak ada laki-laki yang dicintai jika dia menjadi batu. Laki-laki akan dicintai hanya dan hanya jika dia mampu memberi. Dan memberi, selalu dan selalu mengarah kepada semacam materi --sesuatu yang belum aku miliki sampai sekarang.
Aku juga tidak lagi ingin menemukan jawaban dari apa-apa yang selama ini aku dambakan. Wajah ini sudah terlampau remuk redam yang butuh langkah lebih panjang untuk sekadar membenahi satu goresan. Sedang sudah tergores ratusan, bukan, ribuan, bukan, tak terhitung gores hitam yang dalamnya seperti jurang. Aku ingin mayatku dikuburkan dan jejak-jejakku dimusnahkan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi