Mencatat hidup seperti jembut
Tulisan ini bisa jadi jatuh pada ke-aku-an dengan tingkat kemurnian sangat tinggi. Murni membicarakan tentang kehidupan seseorang yang begitu-teramat-sangat-sulit rasanya. Sekarang, andaikan Anda lahir pada 1997 menjadi seonggok bayi yang masih kosong. John Locke menyebutnya sebagai semacam tabula rasa. Kita boleh asal menyebutnya sebagai apa saja, awal hidup, misalnya.
Seiring waktu, Anda tumbuh dengan kasih sayang yang lumer di setiap hari setiap waktu. Membuat Anda menjadi begitu manja dengan penolakan-penolakan yang mulai muncul atas takdir. Lagi-lagi, kita boleh asal menyebutnya sebagai qada-qodar, pun dengan karma atau kamma. Dan karena itu pula sudah tertulis bahwa seseorang akan menulis Mencatat hidup seperti jembut di sebuah blog yang sepi. Atau pilihan untuk menulis atau tidak menuliskannya dalam konsep agama samawi seluruh dunia.
Namun saya tidak akan mencatat perihal takdir yang bisa diubah atau yang sudah tertulis bahkan sebelum ayah-ibu bersepakat dalam sebuah perjanjian yang disaksikan langit untuk membikin kita ada. Saya hanya akan menulis tentang perjalanan sederhana seorang manusia yang dilihat dari sudut mana pun, penuh dengan kesulitan. Perjalanan yang rasa-rasanya dialami oleh semua orang yang hidup di negeri ini, dan barangkali Anda sebagai pembaca.
Saya tidak ingat apakah ada yang bertanya apakah saya ingin dilahirkan. Suatu hari saya sudah meng-ada, terlempar ke dunia dengan paru-paru yang dipaksa bekerja dan seonggok kelucuan yang segera menangis. Orang-orang menyebutnya mukjizat. Pramoedya menyebutnya sebagai hukuman mati yang turut serta tatkala manusia dilahirkan. Mereka tersenyum di sekeliling ranjang, mengucapkan selamat, memuji Tuhan, dan mencatat tanggalnya untuk dikenang setiap tahun.
Sang bayi yang masih polos dan mustahil punya jembut di sekitar kelaminnya bingung saja. Kelahiran barangkali lebih menyerupai pengusiran daripada anugerah. Itu sebuah perpindahan paksa dari ketiadaan yang tenang menuju kehidupan yang penuh tuntutan. Sejak saat itu segala sesuatu mulai menagih dari sang bayi. Tubuh minta makan. Keluarga minta harapan. Negara minta kepatuhan. Agama minta keyakinan. Dan waktu, dengan kesabaran yang kejam, meminta seluruh hidup sang bayi sedikit demi sedikit sampai tidak ada yang tersisa.
Lalu perlahan-lahan sang bayi --saya-- diajari nama untuk segala sesuatu yang tampak pun tidak. Ini ayah Anda. Ini ibu Anda. Ini negara Anda. Itu Tuhan Anda. Dunia sudah lebih dahulu berpikir untuk saya sebelum saya benar-benar bisa memikirkannya. Saya, pada akhirnya, mewarisi keyakinan, nilai, dan harapan sebagaimana saya mewarisi warna kulit atau bentuk wajah. Bertahun-tahun kemudian saya baru menyadari bahwa sebagian besar hidup manusia mungkin hanyalah usaha mempertahankan cerita yang telah tertanam sejak bayi. Benih itu tumbuh menjadi pohon yang mau tidak mau harus tetap disiram di beberapa waktu, dan dipotong rantingnya di beberapa waktu lain agar terlihat lebih indah.
Di bangku sekolah masih belum ada jembut. Saya lambat-laun mendengar bahwa manusia merupakan makhluk yang istimewa di antara seluruh makhluk di seluruh alam semesta. Namun ketika membaca Schopenhauer, saya menemukan kenikmatan yang terasa jauh lebih suram. Bahwa kehidupan digerakkan oleh kehendak buta yang terus-menerus menginginkan sesuatu tanpa pernah benar-benar mencapai kepuasan.
Kita mengejar pendidikan, pekerjaan, cinta, keluarga, lalu setelah mendapatkannya kita segera menemukan alasan baru untuk merasa kurang. Seolah-olah kebahagiaan hanyalah umpan murahan yang sengaja tergantung sedikit lebih jauh setiap kali kita mendekat.
Agama memberitahu saya tentang ketenangan dan penghambaan sejak kecil. Derita jadi begitu kerdil tatkala saya dengan penuh kepolosan --tanpa jembut-- meletakkan jidat keparat di sajadah pada waktu-waktu diam yang sulit. Tetapi Nietzsche dari congor seorang kenalan mengatakan kepada saya bahwa manusia akan menciptakan makna justru karena tidak tahan menghadapi kemungkinan bahwa hidup ini tidak memilikinya.
Sementara Camus berdiri di sudut lain dan menyebut semuanya absurd. Manusia terus mencari keteraturan di alam semesta yang diam. Kita bertanya, tetapi langit tidak menjawab. Kita berdoa, dan yang terdengar hanyalah gema suara kita sendiri yang kembali dari kejauhan. Itu agaknya meluruhkan harapan dan membuat agama menjelma sebagai aspirin yang kita minum di pagi hari dan sore hari sudah mendapatkan ketenangan.
Namun saya juga tidak sepenuhnya dapat berpihak kepada para filsuf itu. Sebab setiap kali saya menganggap hidup tidak memiliki tujuan, selalu ada sesuatu yang mengganggu kesimpulan tersebut. Sesuatu yang sederhana yang bahkan sudah saya lihat semenjak masih bayi polos tanpa jembut, itu adalah wajah seorang ibu yang menangis saat berdoa untuk anaknya di malam-malam sendirian, seorang lelaki tua yang tetap pergi ke masjid walau lututnya sakit, atau seseorang yang bertahan hidup hanya karena percaya bahwa Tuhan sedang menyiapkan jawaban paling memuaskan di bagian akhir.
Mungkin Kierkegaard benar ketika mengatakan bahwa iman dimulai justru ketika rasio mencapai batasnya. Tetapi jika demikian, mengapa begitu banyak orang beriman yang tetap dilanda ketakutan yang sama? Mengapa mereka masih takut kehilangan, takut gagal, takut mati?
Barangkali itulah tragedi manusia yang sesungguhnya. Saya akhirnya hidup di antara dua jurang. Satu sisi terdapat nihilisme yang berbisik bahwa tidak ada makna apa pun dalam kehidupan. Di sisi lain terdapat keyakinan yang menjanjikan makna yang begitu besar sehingga terlampau sulit dibuktikan. Dan sepanjang hidup sampai sekarang tidak polos --tumbuh jembut--, saya berjalan di antara keduanya seperti seorang pejalan malam yang membawa ublik kecil. Cahaya itu cukup untuk melihat dua langkah di depan, tetapi tidak pernah cukup untuk memperlihatkan ke mana jalan ini benar-benar berakhir.
Saya sempat bergumul dengan ambisi Dazai yang aneh dan benak Dostoyevski yang kacau. Lantas secara aneh dan kacau menyadari bahwa hidup ini semata-mata mirip jembut. Tidak ada yang tahu bentuk keritingnya kecuali sang empunya sendiri. Itu pun sang empu masih belum tahu jika jarang-jarang melihat ke arah kelangkang. Seiring bertambahnya usia, bulu-bulu kemaluan makin panjang, kadang sambitan, menciptakan linu yang memaksa melakukan gerakan memalukan sekadar untuk mengurainya perlahan.
Saya remaja mulai curiga bahwa dunia orang dewasa dibangun di atas lebih banyak kompromi daripada kebenaran. Orang-orang yang dahulu tampak begitu yakin ternyata sama bingungnya dengan saya di waktu-waktu bocah polos. Mereka hanya lebih pandai menyembunyikannya. Guru yang berbicara tentang cita-cita, pulang ke rumah dengan wajah lelah bak serdadu kalah perang --itu pun kalau tak mengutuk tentang gaji yang kecilnya keterlaluan. Ayah yang mengajarkan keberanian diam-diam menyimpan kecemasan raksasa. Para pemuka agama berbicara tentang ketenangan batin, sementara berseliweran kabar yang penuh pertikaian yang juga mengatasnamakan agama. Perlahan-lahan saya murung karena melihat kedewasaan hanyalah sekumpulan paradoks sialan.
Lalu datanglah usia ketika jembut mulai tumbuh memunculkan sengkarut luar biasa yang meminta pembayaran. Nilai harus diubah jadi pekerjaan. Mimpi harus diterjemahkan jadi penghasilan. Pertemanan lambat-laun tapi pasti terpisah oleh kesibukan. Cinta --yang konon sejak awal sudah ada dengan fitrah-- tampak seperti puisi muram untuk negosiasi dengan kenyataan. Pada usia itu saya merasa seperti sedang berlari di atas roda berputar. Saya terlanjur mengeluarkan terlalu banyak tenaga hanya untuk tetap berada di tempat yang sama. Dunia menyebutnya perjuangan. Kadang saya menganggapnya sebagai bentuk lain dari siklus pembusukan.
Apakah Sartre benar-benar benar bahwa manusia dikutuk untuk bebas? Tidak ada naskah yang telah selesai ditulis untuk kita. Begitu pula tidak ada alasan kosmis yang bisa dijadikan tempat berlindung setiap kali keputusan harus diambil. Kita memilih pekerjaan, memilih pasangan, memilih keyakinan, memilih jalan hidup, lalu menanggung semua-mua konsekuensinya tanpa ada yang tertinggal. Kebebasan yang dahulu terdengar mulia ternyata tidak lebih daripada beban belaka. Setiap pilihan yang saya ambil adalah kematian bagi seribu kemungkinan lainnya, yang barangkali pada salah satunya merupakan kemungkinan terbaik.
Tetapi kehidupan tidak pernah memberi saya cukup waktu untuk merenungkan semua itu. Tagihan datang lebih cepat daripada pencerahan. Jembut terlanjur memunculkan perih saat sambitan sebelum saya selesai mengurai. Kebutuhan sehari-hari lebih mendesak daripada pertanyaan pun pemikiran. Saya mulai mengerti mengapa banyak orang berhenti mencari makna, seperti Hemingway, Dazai, Mishima, Murakami, atau lebih banyak penulis Jepang lainnya. Mereka tidak benar-benar menemukan makna. Mereka bekerja, menikah, membesarkan anak, menabung untuk masa depan, lalu suatu hari menyadari masa depan yang mereka persiapkan selama penebusan puluhan tahun usia diam-diam telah berubah menjadi masa lalu.
Dan di antara semua sengkarut berengsek itu, ada dini hari tertentu ketika saya terbangun --kalau tidak boleh karena hantu-- tanpa sebab yang jelas. Tidak ada kesedihan yang khusus. Hanya perasaan terasing bahwa waktu sedang bergerak melangkahi saya dengan begitu sembrono. Usia yang selama ini sempat saya anggap tujuan hanyalah persinggahan lain yang kosong. Saya sedang berjalan menuju sesuatu yang tidak pernah gagal mendatangi siapa pun: bongko. Pada saat-saat seperti itu, seluruh omong kosong rasanya begitu dekat sekaligus begitu jauh. Jawaban apa pun yang ditawarkan sebagai penenang kegelisahan tidak lagi memiliki dosis, jam dinding akan tetap berdetak dengan ketidakpedulian yang sangat tega.
Segala murung gelap berubah jadi marah yang menyala-nyala. Saya begitu marah --teramat marah-- pada serangkaian sebab-akibat, atau takdir, atau karma, atau apa pun Anda menyebutnya. Yang membentuk hidup tanpa pernah meminta persetujuan saya dengan apa saya menjalaninya. Saya marah telah dilahirkan ke dalam permainan yang aturannya sudah ditentukan bahkan sebelum saya mengenal bahasa. Marah karena terpaksa kehilangan orang-orang yang saya kasihi. Marah karena tubuh ini perlahan bobrok bak mesin tua tanpa perawatan bulanan meski setiap bagian dari saya ingin tetap tinggal. Marah karena waktu selalu mengambil lebih banyak daripada yang diberikannya.
Orang-orang bijak dalam ruang imaji menyuruh saya menerima. Sebab tidak benar-benar hadir orang bijak dalam perjalanan hidup jembut saya. Mereka berkata segala sesuatu terjadi lantaran sebuah alasan. Tetapi alasan macam apa yang menuntut seorang ibu menguburkan anaknya, atau seorang anak menyaksikan ayahnya memudar sedikit demi sedikit di ranjang rumah sakit? Saya mendengar pula kata hikmah diucapkan berkali-kali, menggema di batok kepala penuh jembut, sampai kata itu terasa laiknya plester yang ditempelkan pada luka menganga yang terlalu dalam untuk disembuhkan.
Pada masa itu saya memahami kemarahan Ivan Karamazov lebih daripada doa-doa para santo. Jika dunia ini memang memiliki rancangan yang sempurna, mengapa kesempurnaan itu dibangun di atas penderitaan yang bahkan tidak dipilih oleh korbannya? Saya tidak ingin jawaban tentang surga yang akan datang. Saya ingin tahu mengapa rasa sakit itu harus ada sejak awal. Dan setiap kali pertanyaan itu muncul, langit tetap diam dengan kesunyian yang nyaris terasa menghina.
Saya mulai memandang hidup seperti jembut lebat seorang terdakwa yang dipaksa menjalani hukuman tanpa pernah diberi tahu kejahatan apa yang telah dilakukannya. Saya lahir tanpa diminta, menderita tanpa dipilih, mati pun tanpa bisa menolak. Mati yang konon harus melalui kesakitan yang jauh lebih besar daripada hidup. Namun di tengah semua sengkarut jembut lebat itu saya tetap dituntut untuk bersyukur. Ada yang tidak beres dengan aturan ini! Waktu telah mengubah semua jam, menit, dan detik menjadi sepenuhnya ejekan.
Barangkali inilah yang dimaksud Nietzsche ketika berbicara tentang menatap jurang terlalu lama. Semakin lama saya memandang penderitaan, semakin sulit bagi saya menemukan bahasa yang cukup untuk membelanya. Saya melihat orang-orang baik hancur-lebur oleh keadaan. Sebuah harapan murni dan fitrah runtuh hanya karena satu diagnosis dokter atau sebuah dering telepon di tengah malam. Dan semakin banyak saya melihat, semakin sulit bagi saya percaya bahwa dunia digerakkan oleh keadilan yang ideal.
Saya tidak --belum-- kehilangan iman. Yang hilang adalah kepolosan saya. Saya berhenti berbicara kepada-Nya dengan nada yang sopan. Doa-doa saban hari itu lebih menyerupai gugatan alih-alih permohonan. Mengapa hidup harus terangkai begitu jahanam seperti ini?! Mengapa cinta selalu dibarengi kehilangan. Mengapa kesadaran diberikan kepada makhluk yang tahu bahwa suatu hari ia akan lenyap. Mengapa pula manusia diberi kemampuan untuk membayangkan keabadian, tetapi ditempatkan dalam tubuh yang rapuh.
Dan mungkin yang paling membuat saya begitu marah --teramat marah-- adalah kenyataan bahwa meski saya membenci semua itu, saya tetap harus bangun keesokan harinya. Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap pergi bekerja. Anak-anak tetap berangkat ke sekolah. Dunia terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah-olah penderitaan seseorang hanyalah catatan kaki yang tidak penting dalam novel yang terlalu tebal. Saya hanya ingin alasan untuk melanjutkan satu hari lagi, atau mungkin bukan alasan, sesuatu yang disebut sebagai kemampuan mengurai sengkarut jembut.
Namun waktu melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh kemarahan saya. Waktu yang menawarkan kekejaman tepi-tepi yang tajam, sekaligus memberi pilihan kelembutan dengan cara ganjil. Bukan berarti saya menemukan jawaban untuk segala gelisah yang mengganggu setiap saat. Langit mustahil terbuka hanya untuk seorang manusia penuh jembut. Tidak ada wahyu yang turun di tengah malam atau cahaya hidayah ketika dini hari. Apalagi momen agung ketika seluruh teka-teki kehidupan mendadak tersusun rapi menjadi sebuah kesimpulan yang memuaskan. Sebaliknya, yang terjadi hanyalah terus hidup dengan segala kesia-siaan.
Saya mesti melambaikan tangan lebih dulu dengan Hemingway, Dazai, Mishima, Murakami, atau lebih banyak penulis Jepang lainnya. Saya mungkin akan menyaksikan musim berganti. Melihat wajah-wajah yang saya cintai menua. Menguburkan sebagian, merindukan sebagian lain. Saya gagal dalam banyak hal --nyaris semua hal--, berhasil dalam secuil hal, dan perlahan memahami kehidupan ternyata tersusun dari peristiwa-peristiwa biasa yang dahulu terlalu sering saya abaikan. Secangkir hitam kopi yang masih membara. Tawa yang muncul tanpa alasan. Isapan dalam kretek murah diapit dua jari kekuningan. Yang dengan gagah berani semuanya menjadi komposisi agar hidup keparat ini layak dijalani.
Di usia senja, jembut-jembut mulai beruban, saya curiga kalau-kalau kebijaksanaan sama dengan berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua pertanyaan butuh jawaban. Ada hal-hal yang harus dipahami. Ada hal-hal yang harus diterima. Dan sisanya adalah hal-hal yang hanya bisa dicintai meskipun tidak pernah sepenuhnya dimengerti.
Jembut beruban memberi tahu saya kalau takdir, qada-qadar, karma, atau apa pun Anda menyebutnya bukanlah musuh. Saya akhirnya sampai pada pemahaman bahwa saya sendiri hanyalah seonggok bagian kecil dari takdir. Jika ombak tidak perlu memenangkan pertarungan melawan laut, maka manusia tidak perlu memahami seluruh rahasia keberadaannya untuk terus hidup.
Agaknya para sufi benar tatkala memberi nasihat tentang pulang. Kepulangan yang jernih dan fitrah ketika manusia berhenti menuntut alam semesta agar sesuai dengan keinginannya. Kemudian berhenti pula mengukur kasih Tuhan dengan ukuran kenyamanannya sendiri. Ketika seorang manusia menerima bahwa kegembiraan dan kehilangan, pertemuan dan perpisahan, kehidupan dan kematian, adalah dua benang yang ditenun berpilin jadi satu membentuk suatu yang lebih besar daripada dirinya.
Kini kegelisahan-kegelisahan akan pertanyaan yang belum terjawab lebih menyerupai bintang-bintang di langit malam yang jauh, tak terjangkau, dan sangat mungkin tidak akan pernah saya raih, tetapi kehadirannya justru membuat perjalanan ini terasa lebih lembut. Akhirnya, saat suatu hari giliran saya tiba untuk meninggalkan dunia sebagaimana 1997 saya memasukinya, saya berharap dapat pergi dengan penerimaan tanpa bertanya --tanpa gelisah.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi