Mencatat kematian, Amato Assagaf

Mati adalah alasan kedua berhadapan dengan sakit yang aku alami. Yang pertama itu adalah "perasaan sia sia di tengah ketidakberdayaan." Aku adalah tubuhku dalam artinya yang paling fisiomaterialis. Setiap sentuhan nyeri pada tubuhku akan menjeritkan aku tanpa kecuali. Ini adalah bentuk hubungan "aku dan tubuhku" yang boleh jadi berada di titik ekstrem tubuh Sartrean sendiri.

Memberi gambaran yang mungkin terkesan dramatis atas apa yang aku alami dalam sakit tentunya tidak bisa dihindari dan memang tidak harus aku hindari. Meski hanya mengalami gangguan sistem saraf yang menyebabkan lumpuh pada kaki kananku dengan bayangan keren menjadi pemuda di atas kursi roda, aku tentu berhak merenungi dan menuliskannya.

Belum lagi penemuan tetiba adanya gangguan pembengkakan jantung disertai infeksi paru yang membuat aku harus mengonsumsi oksigen agak lebih banyak dari orang awam pada umumnya.

Dalam keadaan sedemikian, pernyataan "aku adalah tubuhku" terluaskan menjadi pernyataan "aku dengan perasaan sia sia di tengah ketidakberdayaan tubuhku." Aku terilhami kesadaran itu dengan terang saat berjuang membebaskan diri dari sesak napas hebat dalam separuh malam.

Dan itu berlangsung berulangkali dalam beberapa hari. Hingga hari ini. Obat obatan, uap, oksigen, dan lain lain yang diberikan adalah kerangka bagi ketidakberdayaan tubuhku.

Adapun aku yang merasa sia sia adalah dia yang merenung, menulis, dan mencoba memahami bahwa mati adalah alasan yang kedua. Alasan yang pasti dan diam diam.

Di luar perjuangan untuk tidak sia sia.


6 Januari 2026
Amato Assagaf

Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix


Tulisan di atas sebenarnya tidak memiliki judul. Saya ada-kan judulnya sendiri. Harap maklum!

Diunggah ke Facebook 6 Januari 2026, dan beberapa jam kemudian pada 7 Januari 2026 beliau berpulang.

Tulisan terakhir --kalau boleh dikata-- yang betapa itu bebas dan jujur. Luar biasa!

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi