Mnemonik; Epifani, seni dan hiburan

Untuk menambah bumbu pengalamanku dengan puisi puisi Epifani dalam "Mnemonik" aku membaca lagi "Abad Yang Berlari" karena, pada hematku, keduanya 180 derajat bersebelahan. Aku ingin melihat sejauh apa "Kertas," "Babi Tore," "Bakunae," "Romantis Itu," memberiku dunia puitika seperti "Dada," "Kota Pendaki," atau "Arsitektur Hotel" Afrizal Malna memberiku dunia puitika. Aku ingin mengukur batas apresiasiku atas puisi puisi Epifani Pangkey, penyair muda yang tidak terlalu muda lagi.

Satu hal menjadi jelas sejak sebelumnya, aku tidak kecewa dengan “Mnemonik” sebagai sebuah buku puisi (yang menunggu terbit). Bahkan seperti yang kemudian terbukti lewat pengalaman banding di atas, puisi puisi "Mnemonik" menciptakan dunia puitikanya dalam prosesku mengalaminya dengan cara yang berbeda dari apa yang biasanya teralami olehku dalam menyimak puisi puisi pada umumnya.

Epifani mengingatkan aku pada Darmanto Jt. meski dengan eksplorasi yang mungkin masih bisa lebih dipernekat untuk bisa mencengangkan aku seperti “Ki Blakasuta Bla Bla,” atau “Karto Iyo Bilang Mboten.” Yang jelas aku membutuhkan ruang pengalaman yang lain sebelum sampai sebatas Epifani. Aku tidak boleh menggunakan pengetahuan standar sastra dan kesenian tapi melompat masuk ke dalam pengalaman pengalamanku sendiri sebagai tukang tulis puisi.

Lalu Epifani menjadi jelas (bukan melulu dalam pemahaman) dan aku mengajak Leon, Marsel, Ega dan yang lain untuk mempertunjukkan “Mnemonik.” Mestinya itu lebih bermakna menantang. Dunia Epifani adalah dunia tanpa dikotomi “seni” dan “hiburan” seperti aku. Mengajak para penghibur dengan maksud mendekatkan mereka pada “seni” rasanya jadi mungkin jika yang akan kita tampilkan adalah “Mnemonik.”

Dalam ulang alik ke dan dari dua dunia itu, “Mnemonik” memang selalu terancam untuk jadi norak jika melulu dibaca dari kacamata “seni” dan membosankan jika dibaca melulu dari kacamata “hiburan.” Kehadiran Leon, Marsel dan Ega yang berlatar dunia hiburan, dengan penafsiran mereka atas puisi puisi “Mnemonik” akan menjadi cara nekat untuk menjaga agar proses ulang alik itu berjalan mulus tanpa kurang suatu apa. Semoga.

Lalu di situlah kita bicara tentang kekuatan pertama “Mnemonik”; terlalu puisi untuk jadi semata klangenan dan, pada saat yang sama, terlalu menghibur untuk tinggal tunggal sebagai bacaan bermenung di dalam kamar. Tepat seperti almarhum Sang Darmanto.

Dan begitulah, di luar sebagai buku puisi, aku melihat “Mnemonik” sebagai cetak biru sebuah pertunjukan. Ikhtiar menampilkannya lewat pelisanan para aktor “Mariara the Movie,” seperti Leon Sengkey, Marsel Teto, dan Vega Sigar di Kafe Beenji nanti hanya awal yang bisa aku pikirkan dalam kerangka upaya Padepokan Puisi membangun sebuah komunitas berpusat puisi di kota ini.

Kekuatan kedua “Mnemonik” akan aku upayakan dalam tulisan lain.


30 Oktober 2024
Amato Assagaf

Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi