Mnemonik; Epifani, serius dan bercanda

Dalam banyak puisinya di buku “Mnemonik” Epifani terkesan suka bercanda. Dalam banyak puisinya di buku “Mnemonik” Epifani tidak sedang bercanda. Dalam banyak puisi itu, Epifani sedang mengulang renungannya dan, katakanlah, membercandakannya untuk mengejek kebanyakan pemahaman kita yang gagal terhadap hal hal “serius” di sekitar kita atau, setidaknya, yang dia renungkan.

Pun, dari sekadar membercandai tema tema renungannya, Epifani turut pula membercandai proses merenungnya serta sekalian apa yang kita pahami sebagai renungan itu sendiri. Dengan begitu, dia menukik jauh ke dalam pemahaman kita mengenai renungan yang membawa pada proses penulisan puisi.

Dengan ini, aku hendak menekankan pentingnya mengalami puisi puisi Epifani sebagai hasil perenungan, sebercanda apapun tampaknya. Dengan itu juga hendak aku tekankan bahwa tidak ada yang ringan dari apa yang kita anggap sebagai semacam “hiburan” dalam puisi puisinya. Yang “menghibur” dan karenanya jadi terbaca ringan adalah caranya mengungkapkan, bukan apa yang diungkapkan dan segala konsekuensi puitis maupun filosofisnya.

Tidak ada yang ringan dari puisi berikut:

Manusia dengan dosa nafsu omnivora terhadap sukaduka
Mereka dikutuk untuk menciptakan Tuhan seumur hidup
Dengan mantra dan puisi, kekata dan dedoa, hingga airmata
Lalu oleh segala peradaban; mereka kan diburu lagi dihirup
Sebab mereka t’lah bangun sektesekte pemuja hidup dan mati
Di sudutsudut ingatan, tikungan kata, lalu catatancatatan kaki

Judulnya “Poemancer” dan ketakutannya terasa jelas bersifat teoeksistensial meski mencoba melarikan kita pada cara pandang pengamat soal keangkuhan manusia di hadapan ketidakberdayaannya. Epifani ada di situ dan aktif di dalam “keangkuhan” itu. Epifani, putra seorang pendeta yang tak kurang tidak berdaya, adalah ‘mereka’ yang dia bicarakan itu.

Sulit untuk menemukan seorang ‘pengamat’ objektif dalam puisi puisi Epifani di (bakal) buku ini, meski bukan tidak ada. Setidaknya sulit untuk melihat ada sesuatu – tema, tokoh, gagasan, makian, dan subjek subjek puisi lain – yang begitu saja lepas dari eksistensialitas seorang Epifani. Sebentuk lirisisme yang membuat puisi puisi ini jadi penting, jikapun tidak (atau belum) sekuat itu.

Ambil saja tokoh “Don si Pengangguran” yang mestinya bukan Epifani tapi dalam beberapa asosiasi justru terasa begitu Epifani. Dan, yang menarik, itu bukan tanpa sengaja – bukan semata efek ketidaksadaran puitis sang penyair. Don adalah (juga) Epifani dalam banyak hal dan, utamanya, dalam satu hal: berbagai kontradiksinya.

Kita tak perlu mengenal Epifani secara personal untuk menemukan Epifani dalam tokoh Don. Kita hanya perlu kembali pada kontradiksi kontradiksi yang disadari itu dan membandingkannya dengan beberapa puisi yang sangat 'aku' di dalam (bakal) buku puisi “Mnemonik” ini.

Bacalah,

“I am the sin that makes you fall” – The Man with Hole on His Hands
atau,
“saya membalas lembut dengan mengatakan dia babi” – BAKU TAMBAH IV

Kecenderungan sang penyair untuk menggunakan kata ganti “kita” atau “kami” juga tidak menghilangkan jejak eksistensi personal seorang Epifani. Dan, sekali lagi, eksistensialitas personal itu disematkan secara sengaja. Ini membuat aku jadi terdorong berkesimpulan bahwa Epifani tidak sedang hanya mengamati peristiwa di lingkungannya dan membiaskan dirinya di dalamnya tapi, dengan sesadarnya, mengamati dirinya sendiri di dalam semua itu. Lalu menata “aku/saya” dengan manis di dalam “kita/kami” dan memakinya dengan “kuda cuki” atau lewat segala kontradiksi yang digambarkannya.

Kontradiksi adalah makian lain Epifani atas segala sesuatunya, yang dia hadirkan di dalam puisi puisinya di (bakal) buku ini, dan yang dia isyaratkan di dalamnya. Kontradiksi adalah puisi puisi Epifani itu sendiri, proses dan hasil renungannya, puitika seorang Epifani di dalam “Mnemonik” ini. Tegangan eksistensial yang dia damaikan dengan membercandainya.

Adapun “bercanda” itu dia lakukan dengan begitu “serius” dan sadar. Termasuk dengan menggunakan bahasa sesukanya yang tampak ringan dan “norak” bahkan tak jarang “konyol” justru untuk menekankan sifat seriusnya sebagai sebentuk pergolakan eksistensial. Epifani, dalam hal ini, adalah seorang eksistensialis yang mengejek dan memaki, eksistensialitas itu.

Lalu aku temukan, dalam profanitasnya, Epifani sesungguhnya begitu relijius. Tapi itu adalah tema dari tulisanku yang lain. Nanti.


1 November 2024
Amato Assagaf

Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi