Kita adalah kata kita

Aku tahu lupa yang percuma hanya degup jantung yang memantulkan obrolan kita ke tembok tembok cerita. Komunikasi setelah itu tinggal cermin yang berpikir dua arah; sebelum itu atau nanti. Mungkin setelah itu segalanya akan memburu seperti waktu. Seperti kita sewaktu muda, seperti tiada yang diam diam menjauh. Mungkin kita harus ada di situ bersama setiap kali kejenuhan yang mendekap. Membuang serapah dan setiap remah roti daging kristus dari semua perjamuan. Mungkin semuanya hanya gerak hati di kulit kerbau. Kecemasan yang terlanjur karena kita sudah terlalu lama tidak berjumpa dengan kata.

Jauh di ujung ufuk semusim sebelum senja dan warna nyala api di cakrawala, mestinya setiap kekecewaan akan terjawab. Ibu yang bergegas sebelum matahari terbenam dan anak anak durhaka dengan ribuan permen di saku celana. Mereka berwarna warni. Mereka begitu tulus seperti keledai kristal di pinggir jalan pulang. Seperti perempuan tanpa celana dalam lukisan Piet Mondrian. Semesta yang terbolakbalik di dalam kepala tanpa gagasan. Karena sesungguhnya hari berbakti telah usai seusai doa makan siang. Semua jadi begitu khidmat di jalan berbelok dari Manado menuju Indonesia pada 24 April 1990. Setelah itu kita tahu siapa yang mengetuk pintu.

Pada siang yang hujan dengan sketsa hati sepasang kekasih. Pada siang yang terik dengan matahari di punggung babi. Pada siapapun yang pernah lewat di jalan itu dan menemukan surga hanya satu meter lebih luas dari taman kota tempat perempuan itu memasak takdirnya dan melahirkan anak anak dengan kerkah raja singa di kulit otak. Lalu kita tiba pada akhir cerita. Tepatnya di padang Karbala dengan iringan gitar Carlos Santana.


29 Desember 2024
Amato Assagaf

Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi