Di manakah Darmanto?

Kalau lagi ada sedikit uang lebih, aku biasanya akan berburu buku puisi dari zaman baheula hingga yang sezaman. Ini sudah aku lakukan sejak lama. Buku-buku terbaik dari para penyair terbaik. Aku sebut demikian. Karena kondisi keuanganku yang tidak terlalu bagus tidak memungkinkan aku memburu semua buku dari seorang penyair.

Cukup satu dua yang terbaik. Dan tidak terbatas pada buku-buku yang masuk dalam kanon sastra Indonesia. Tapi lebih lewat perburuan berdasarkan baca membaca dan mengikuti pergaulan puisi di bagian dunia manapun di republik ini.

Pada pokoknya, di luar Kang Tardji, Mas Goen, dan Chairil Anwar yang harus selalu aku miliki, aku memburu banyak buku lain sezaman, lebih muda, atau lebih tua dari mereka bertiga. Dan aku temukan dari Sitor Situmorang hingga Sitok Srengenge. Dari Hamid Jabbar hingga Gemi Mohawk. Walhasil, kebanyakan aku temukan, kecuali Darmanto JT. Dan itu membuat aku merasa kurang jika tak bisa dibilang cacat. Ki Blakasuta bla bla, Bangsat, dan Sang Darmanto, itu saja. tapi di mana buku-buku puisi ini bisa aku peroleh?

Aku sudah mencari ketiga buku puisi itu sejak padepokan dibentuk delapan tahun lalu. Tragisnya, ketika aku tanyakan ke satu toko buku online yang mencetak ulang buku-buku puisi lama, mereka malah balik bertanya, siapa itu Darmanto? Aku tidak tahu, apakah aku sedih atau marah dengan pertanyaan itu. Yang pasti aku tahu, mereka bukan pecinta puisi tapi cuma pedagangan buku.

Dalam sejarah puisi, Darmanto semegah Tardji, Mas Goen, juga Chairil Anwar. Maka membiarkan buku puisinya hilang dari muka bumi republik ini adalah sebuah dosa sejarah. Kebanyakan buku yang aku buru dan dapatkan sudah pernah aku miliki tapi oleh satu dan lain sebab, banjir bandang Manado dan kehidupanku yang suka berpindah-pindah, membuat banyak yang hilang.

Termasuk buku-buku Darmanto yang aku peroleh saat masih sok penyair di sekitaran Solo-Jogja-Semarang tahun 1985/87. Itu juga kali pertama aku kenal Wiji Thukul tapi baru ngeh setelah jadi anak SMID. Adapun Darmanto di masa itu sudah jadi bagian dari obrolan, debat, dan ngamen puisi kami. Lalu hari ini, aku tak lagi ketemu Darmanto. Jesus bless you, penyair. Abadi kau dengan puisi puisimu meski aku masih harus mencari.

Di manakah Darmanto?


19 November 2024
Amato Assagaf

Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi