AKU MENCURI PETANG DARI LUKISAN JAYA MASLOMAN, Amato Assagaf

Sudah aku tentukan tujuan, tinggal jalan
untuk ditempuh dan kaki pada warna.
Sebingkai kanvas di dalam kepala mengantar
musik lamat-lamat. Sekali terlihat seluruh
irama, tanganmu mengulang suara.

Aku mendengarnya, nyaris tanpa gradasi,
semata abstraksi. Sebuah cara yang mulia
untuk mengatakan bahwa aku telah lupa
bagaimana tersenyum tanpa terlihat tua.

Aku melihatnya, dengan Pollock dan Rothko,
dengan kucing dan langit, dengan gelisah dan
birahi, dengan usia yang sia-sia memaknai
hidup dan kegembiraan menemukan petang
di antara warna-warna terang.

Dan aku mencurinya dalam sebuah pameran
yang berlumur air liur.

30 Juni 2019
Amato


Puisi di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi