Sepenggal Boltim

buyung datang siang itu. berkunjung dari boltim karena tahu aku benar benar sedang sakit dan dia kebetulan sedang ada urusan di manado.

Buyung datang membawa setengah jam rasa prihatin atas kesehatanku, setengah jam cerita Pilkada Boltim yang aku tahu tidak mungkin dia tuturkan dengan objektif, setengah jam keresahan pribadinya atas usia, keluarga, dan harapan harapannya yang masih juga harapan, serta hampir satu jam obrolan tentang Boltim yang hanya Boltim.

Buyung tahu, aku selalu suka mendengar kisah Boltim yang hanya Boltim. Sesuatu tentang Boltim yang selalu memberiku rasa nyaman yang unik; semacam udara yang mengisi paru paru sehabis hujan pada malam kala bulan mati. Tanpa orang lain, tanpa kerinduan, juga tanpa perlu harapan. hanya aku dan Boltim.

Buyung datang siang itu untuk memberiku jaminan bahwa Boltim masih Boltim dalam segala perubahan dan dinamikanya. Aku percaya jaminannya karena buyung orang Boltim yang seboltimboltimnya.

Buyung pulang siang itu tapi Boltim masih tertinggal di ruang tamu rumahku. Di antara sofa dan meja kaca dengan asbak penuh puntung rokok.


20 November 2024
Amato Assagaf

Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi