Belum ada judul 3
Di masa pemulihan ini aku seperti mendapatkan banyak tanda yang begitu melegakan. Seperti mendengar bel pulang waktu masih di sekolah dasar. Hanya saja tak ada bayangan apapun setelah nanti kelas bubar.
Rasanya hanya akan ada lenyap yang mestinya lebih dari senyap. Ruang bukan ruang bahkan jika itu hanya konsep. Apalagi waktu. Tak ada lelah karena tak ada yang perlu kita lakukan. Bahkan tiada pun tak ada.
Aku tidak tahu tapi itulah yang menyenangkan. Karena aku, seperti setiap orang lain, memang tak harus tahu. Bukan karena tak peduli tapi semata wawasan rendah hati bahwa kita tidak selamanya harus tahu.
Apalagi menciptakan (seakan) realitas dari narasi hanya agar merasa kita tahu.
Pengetahuan, bagaimanapun juga, bukan tanda kemanusiaan kita. Obsesi membedakan diri dari saudara kera kita dengan pengetahuan telah melalaikan kita dari kesadaran bersahaja untuk membedakan antara fakta dan fiksi.
Bukankah cukup bagi kita apa yang kita tahu di masa hidup ini? Lebih dari itu, mestinya hanya rasa lega mendengar bunyi bel pulang. Dan di masa pemulihan ini, aku seperti mendengar bel pulang itu. Samar dari kejauhan sana.
Tapi sebelum pulang, aku akan terus menulis dan menulis dan menulis.
20 November 2024
Amato Assagaf
Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi