SALAM BUAT BANG AZUZAN, Amato Assagaf

Ada dua hal yang saya ingat dari Azuzan, senior dan dosen saya di jurusan teater IKJ. Pertama, penampilannya yang unik, termasuk cara bicaranya. Kedua, pengembaraan pikirannya yang juga unik.

Dalam soal yang kedua, juga ada dua hal yang selalu saya ingat dan masih saya percaya hingga saat ini. Pertama, soal kesenimanan yang diyakininya dengan unik. Kedua, soal aksi berkesenian yang juga dipahaminya dengan unik.

Hampir mirip dengan Tatiek Maliyati, eyang putri teater Indonesia, Azuzan percaya pada perlunya semacam "bakat" untuk jadi seniman. Meski demikian, gagasan Azuzan soal itu tak sepenuhnya bisa dicakup oleh konsep "bakat" semata. Konsep yang lebih tepat mungkin "takdir" atau sesuatu yang seperti itu.

Bagi Azuzan, menjadi seniman adalah takdir yang dipikulkan oleh sebuah kekuatan luar yang tidak dia sebutkan secara jelas. Kita boleh memahaminya sebagai Tuhan, semesta, kamma, atau saya sendiri suka menyebutnya sebagai takdir biografis sang empunya diri.

Pada saya, gagasan kesenimanan ini berlaku secara sungguh-sungguh. Maksudnya, ia berlaku baik dalam teori sebagai panutan pikiran maupun dalam pengalaman praktis keseharian. Hingga saat ini.

Secara teoritis, setelah berbilang tahun meninggalkan IKJ, saya mengembangkan gagasan Azuzan ini – yang boleh jadi tidak lagi dia percaya sekarang – dengan cara saya sendiri. Saya juga sudah banyak menggunakan konsep yang bukan lagi dari Azuzan.

Hasilnya adalah sebuah bangun gagasan sederhana tentang kesenimanan; sesuatu yang, atas nama kerendahhatian, hendak dihindari bahkan oleh para seniman sendiri. Dalam gagasan ini, seniman pertama-tama dipercaya bukan sebagai profesi tapi lebih merupakan rangka eksistensial.

Seorang seniman dilahirkan, bukan dalam pengertian biologis oleh ibunya atau dari sebentuk benih esensial, tapi oleh lingkungan biografisnya. Selanjutnya, lingkungan biografisnya itulah yang secara relatif akan menentukan seluruh jalan hidupnya sebagai seorang seniman.

Saya katakan relatif karena takdir itu bermain sebagai busur masuk dari luar ke dalam diri sang seniman yang menanggapinya lewat akal rasionalnya sebagai busur keluar. Tanggapan itu nantinya akan mendapatkan respons balik dari luar. Dan begitu seterusnya “takdir” itu terbentuk dan berlaku baginya.

Kita adalah mahluk yang ditakdirkan hingga saat akal rasional kita terbentuk dan mengambil peran untuk ikut menentukan berbagai takdir itu. Dengan begitu, ada nilai dari apa yang kita sebut takdir itu yang merupakan efek dari pilihan rasional kita sendiri.

Demikian hal itu berlaku secara ketat dalam kehidupan seseorang sebagai seniman. Dan menjadi seniman dalam arti seperti ini membutuhkan kemampuan untuk berdamai dengan takdir, yakni dengan biografi kita sendiri. Kesimpulan seperti ini, sejauh yang saya ingat, adalah kesimpulan Azuzan saat itu.

Pada hari yang berbeda, dalam situasi yang juga berbeda, saya kembali mendengar Azuzan bergagasan. Kali ini tentang proses berkesenian. Saya menangkapnya dengan serius dan menyimpannya dalam perbendaharaan ingatan saya karena sama menarik bagi saya seperti gagasan pertamanya.

Dan keduanya, pada hemat saya, sangat berkaitan. Waktu itu Azuzan bicara soal “militansi” berkesenian. Konteksnya adalah lunturnya semangat kawan-kawan di jurusan teater dalam berkarya waktu itu. Setelah mengkritisi hal itu dan kaitannya dengan sikap kawan-kawan, dia kemudian mengemukakan perlunya militansi.

Halangan selalu akan muncul dan hanya militansi yang bisa membuat kita jalan terus, katanya waktu itu. Persoalannya, dari mana militansi ini akan kita peroleh? Jawabannya, dalam banyak hal, (1) datang dari takdir kita dan kesadaran kita akan hal itu atau (2) datang dari takdir kita dan terseretnya kita dalam hal itu.

Proses berkesenian, karenanya, adalah proses yang paling jelas bagi kita dalam mengamati bermainnya busur masuk (takdir biografis/lingkungan kita) dengan busur keluar (akal rasional kita) dalam menanggapi takdir itu dan mengambil bagian di dalamnya.

Kita punya kebebasan dalam mencipta. Termasuk memilih apa yang akan kita ciptakan dan bagaimana kita menciptakannya. Tapi kebebasan itu bersifat relatif terhadap masukan-masukan dari luar diri kita. Artinya, kebebasan mencipta kita adalah tanggapan kita terhadap takdir biografis kita.

Menyadari hal ini, atau bisa juga dibilang masuk ke dalam situasi ini, mestinya akan mendorong kita untuk menjadi militan dalam berkarya. Kenapa? Karena hanya itu yang memang bisa kita lakukan sebagai seniman. Mengkhianati jalan itu adalah mengkhianati rangka eksistensial kita sebagai seniman.

Tak ada yang salah dari pengkhianatan itu, tak ada dosa karenanya, pun tak harus dikutuk. Akibat yang mungkin hanyalah hilangnya kesempatan bagi sang seniman untuk berkarya. Serta, mungkin, kegelisahan sekadarnya yang tak pernah terjawab. Militansi, karenanya, adalah cara seorang seniman untuk menjadi ada.

Tentu saja masih ada banyak pertanyaan yang perlu dijawab oleh “teori” ini. Semisal, dari mana saya tahu bahwa saya ditakdirkan menjadi seniman? Apakah semua orang yang secara sederhana boleh kita anggap seniman pasti ditakdirkan untuk menjadi seperti itu?

Sejauh apa konsep-konsep itu mampu menjelaskan eksistensi seorang seniman berbanding lurus dengan karya-karyanya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang jauh lebih dalam. Tapi dalam tulisan ini, saya tidak ingin mengeksplorasi gagasan itu. Saya hanya ingin sedikit menunjukkan sesuatu tentang Azuzan.

Sesuatu yang tidak hanya membuat dia menjadi istimewa untuk dirindukan tapi juga, saya kira, membuat dia menjadi berharga bagi saya dan banyak kawan yang lain. Berharga sebagai senior saya, sebagai dosen saya, dan utamanya sebagai sesama seniman yang menggelisahkan karya dan peran kami.

Saya tidak selamanya bersepakat dengan Azuzan. Sikapnya yang, menurut saya, agak "kiri" bukanlah sesuatu yang cocok dengan saya. Begitu juga dengan beberapa pilihan artistiknya. Tapi itu semua tidak mengurangi kesan baik saya terhadap dirinya dan menghargai apa yang pernah dia berikan.

Dan saya menulis ini untuk menunjukkan itu. Sekalian untuk menjawab satu komentarnya dalam obrolan jarak jauh kami bahwa dia masih menyimak pengembaraan pikiran saya. Menjawab bahwa, suka atau tidak, dia telah turut menyumbang dalam pengembaraan saya itu.

Selamat berkesenian, bang Azuzan. Juga selamat berpikir.

Manado, Januari 2019
Amato


Catatan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi