KATA 8126, Amato Assagaf
KATA 8126
Apa yang ada dalam kenanganmu? Sepeda motor, lemari pakaian, dan apa saja yang mungkin ada di antara keduanya. Termasuk kepalamu yang terkantuk-kantuk dalam perjalanan itu.
Apa yang ada dalam kenanganmu? Tiga ekor merpati dan tanah airku Indonesia.
KATA 9211
Kalian ingin mengucapkannya seperti sebuah kenyataan. Kalian ingin memikirkannya sebagai sebuah kenyataan. Kalian menemukannya begitu samar, di dalam hati, bersembunyi di balik kemasygulan, tanpa rupa tanpa bahasa, kecuali apa yang kalian inginkan ada.
Lalu kalian menyimpannya, menjaganya seolah nyata. Memberinya nama agar bisa kalian rindukan. Memberinya bahasa agar bisa kalian hadirkan. Tapi hari itu, sebelum mati, aku tahu kalian hanya bosan.
KATA 6010
Sebuah tangga tidak menjelaskan ember. Mungkin keduanya hanya ingin bermain dengan bayang masing-masing. Sebuah ember tidak hadir disitu untuk tangga, untuk menjelaskan dirinya lewat bayang-bayang sebuah tangga. Dan ember, seperti juga tangga, dengan atau tanpa bayang, tidak menjelaskan pada kita tentang sebuah republik.
15 November 2018
KATA 2854
Kita punya segalanya kecuali kata-kata. Tuhan telah mencurinya di suatu pagi yang buta.
4 Desember 2018
KATA 3173
Kita punya lebih dari sekadar hidup; mimpi dengan separuh luka dan tuhan yang membosankan.
20 Desember 2018
KATA 5712
Di Nduga, hari itu, Sigi berduka bersama Papua. “Sekali waktu aku pernah punya sebuah Indonesia,” katanya. Tapi, hari itu, dia hanya punya mata.
23 Desember 2018
KATA 7620
Seorang perempuan adalah apa yang kita tahu tentang dia. Segaris vulva, sepasang payudara, dan belati dengan bayangan mata. Seorang perempuan adalah apa yang kita tahu tentang dia. Sebingkai jendela di hadapan dunia.
31 Desember 2018
KATA 1593
Malam telah memberitahukan kepadaku bahwa aku adalah seorang nabi yang lahir dari sebuah lukisan sungai berwarna cahaya dengan garis merah tanpa gradasi yang menghubungkan antara sungai itu dengan sebuah lingkaran berwarna jingga di ujung kanan atas kanvas berukuran tiga kali tiga meter itu.
Dan malam baru saja usai saat aku menemukan pelukis tua itu telah mati dengan senyum seperti tuhan yang lupa menurunkan wahyu.
4 Januari 2019
KATA 8053
Ayahku pergi dengan delapan puluh tiga tahun usia, jari-jari tua, juga wajah yang lelah. Lalu suatu pagi aku bangun dan menemukan ayahku di mata anak-anakku.
Di sana, dia sedang merayakan ulang tahunnya.
S. ARIFIN ASSAGAF
6 Januari 1932 – 6 Januari 2018
6 Januari 2019
KATA 4749
Untuk nasib berwarna tanah, apa yang bisa kita ucapkan? Sebentuk kenangan akan wajah yang gelisah dengan bibir dan mata penuh harap. Sesuatu yang sudah terlalu lama kita pendam hanya karena waktu tak pernah mau membiarkan kita menunggu. Dan saat keputusan diambil, kita sudah terpisah jarak ribuan dosa.
Untuk nasib berwarna tanah, apa yang bisa kita ucapkan? Aku bukan pangeran, kau bukan putri, dan kita tidak hidup di negeri dongeng.
8 Januari 2019
KATA 2616
Suatu hari nanti, saat hujan terdengar seperti malam yang sedang menyanyi dan setiap kata boleh memilih maknanya sendiri, aku akan mengucapkan selamat hari jadi kepadaku.
Suatu hari, nanti.
13 Januari 2019
KATA 9548
Ketika buku diberangus dan kita menemukan tentara, ketololan menjadi sempurna di meja makan negara. Ketika buku diberangus dan kita menemukan tentara, siapa yang masih bisa melihat warna putih di bawah merah?
19 Januari 2019
KATA 1292
Aku telah menangis lama sebelum dukaku abadi. Di petang yang muram selepas hujan, di antara pohonan dan caci maki. Jalan itu sepi dan ada yang tetap tinggal tak terpahami.
22 Januari 2019
KATA 5539
Yang akan terjadi akan terjadi, anakku. Kita hanya tak tahu apa yang akan terjadi. Maka usaikan harimu sebelum usia mengusaikanmu, karena hanya dalam waktu kita menjadi.
Selamat hari jadi...
HASYIM LANGIT
28 Januari 2019
KATA 7039
Setelah itu apa? Aku pernah mencintaimu di suatu waktu, lalu kita hidup bersama. Punya anak dan mulai merasa bosan pada cerita yang selalu sama. Setelah itu apa? Cinta yang sama dalam cerita yang berbeda. Atau hanya kita, berdua tanpa suara.
Selamat hari jadi istriku...
29 Januari 2019
KATA 3767
Berikan padaku segelas dan akan kuberikan padamu dunia, lengkap dengan setiap kata yang akan mengulang bagimu dunia. Tapi jangan tinggalkan aku sebelum habis kureguk racunmu. Entah dengan kata, pun dengan dunia.
5 Februari 2019
KATA 2722
Pada hari yang lalu. Pada musim kemarin ketika kau belum pulang. Pada luka yang kau titipkan di jalan itu. Dan nanti.
Selamat hari jadi, padepokawan Qif.
8 Februari 2019
Mungkin pulang adalah jalan itu. Tanpa luka, tanpa nanti. Selamat menjadi.
8 Februari 2019
KATA 1811
Tadi pagi anakku meminta uang dan aku hanya punya senyum untuk diberikan. Anakku tidak kecewa tapi hatiku berdarah. Malamnya aku bermimpi anakku meminta senyum dan aku hanya punya hati dengan luka yang menganga.
6 Maret 2019
KATA 6326
Ketika ayahku pergi aku tidak menangis, karena dia selalu akan pulang membawa oleh-oleh. Juga malam itu.
Tapi pada malam ketiga, saat orang-orang membacakan doa, baru aku tahu dia tidak akan pernah pulang. Juga tangisku.
13 April 2019
KATA 4418
Bahkan tuhan tidak bisa meletakkan kakinya di jalan itu. Ada kau di situ. Bersama nama yang telah kau lupakan dan kabar kematian yang tiba dengan begitu sepi.
16 April 2019
KATA 5281
"Kebenaran. Apa itu kebenaran?"
Bibirku gemetar hendak menjawab ketika terbayang olehku sebuah bukit, sepalang salib, dan segores luka pada lambung.
19 April 2019
KATA 3522
Mandi di hari hujan. Cahaya pada kulit air dan bunyi pada gerai rambut. Padahal aku tak memintamu untuk menjelaskan basah.
26 April 2019
KATA 6686
Proletar yang paling berbahagia di dunia. Aku membayangkan julukan itu padamu dan tanpa rasa sungkan kau menerimanya. Menjadikannya bagian dari mimpimu yang paling akhir ketika siang itu panas mengantarkan kabar sebuah revolusi.
Liberte, egalite, dan sebuah republik bernama samar-samar.
7 Mei 2019
KATA 7991
Atas nama waktu kau memberiku dua puisi. Yang satu kusimpan di laci kamar bersama foto lama ibuku. Yang satunya lagi meneteskan air mata di hari pernikahanku.
17 Mei 2019
KATA 8830
Suatu hari nanti aku akan membuatkan untukmu masa depan dengan cinta yang menyentuh tubuh agar kau bisa menjadi pelacur yang telanjang dan berbahagia di antara bunga-bunga.
29 Mei 2019
KATA 9822
Hidup adalah tubuh yang memeluk diri pada pagi basah ketika kau sadar jalan ini tak lagi sama; dengan atau tanpa tuhan yang sama.
Hidup adalah jalan yang tak pernah sama; dari pagi ke pagi, dari tubuh ke tubuh, dari tuhan ke tuhan. Bacalah. 6 Juni 2019
KATA 4249
Aku mendengarmu seperti pena menuliskan jiwa. Tidak lewat kata tapi dalam tatapan mata. Sejenak yang hening pada pagi berwarna duka. Lalu kau pergi dan aku memahat air mata.
4 Juli 2019
KATA 1377
Kecuali ada yang bisa mengusir tatapku dari matamu, kita boleh membaca sejarah umat manusia sebagai biografi seorang anak di dalam kepala ayahnya.
Selamat hari jadi buat putraku, Ateng.
11 Juli 2019
KATA 2535
Aku dan matahari pernah berbincang tentang bagaimana ia menciptakan senja ketika kau meninggalkan aku. Kami bahkan sempat berdebat, apakah kepergianmu yang membuat senja begitu muram ataukah tetes air mataku.
24 Juli 2019
KATA 3501
Semoga yang kau berikan padaku bukan bunga yang dipetik kesunyian saat kau gagal mengulang ikatan antara dirimu dengan semilir angin.
Tanganku luka oleh duri bungamu. Perihnya begitu sunyi.
9 September 2019
KATA 5996
Di Papua kita lihat ada kemarahan yang selalu luput dipahami otak kekuasaan. Di Papua kita lihat ada air mata yang sia-sia mengairi gersangnya keserakahan. Di Papua kita lihat ada Indonesia yang semakin menjauh.
Di Papua kita berdoa pada entah tuhan yang mana.
29 September 2019
KATA 6972
Waktu hanya abadi ketika kau menanti. Ketika cahaya melukis wajah yang pernah kau ingat dalam gelap di sepenggal masa lalu. Ketika rindumu menolak kepergiannya dalam bayang panjang nisan di pagi itu. Ketika dia jadi abadi dan kau masih menanti.
20 Oktober 2019
KATA 7201
Bisakah kau mendengar nyanyi hujan yang pedih? Lagu rindu pada kemarau, kekasihnya yang entah. “Aku selalu mendengar jeritmu memanggilku. Tapi setiap kali aku datang kau pasti akan menghilang.”
30 Oktober 2019
KATA 9164
Tali-tali gitar tidak pernah mengkhianati jemari, seperti juga dentingnya tidak akan
membohongi telinga. Diberikannya rasa pada setiap bunyi; udara yang bergetar
dan keindahan yang sembunyi.
3 Desember 2019
KATA 1729
Jadi maka jadilah.
Karena penyair sejati tak lagi merangkai kata-kata. Mereka hanya perlu bernapas dalam hening.
10 Januari 2020
KATA 2441
Realitas adalah air yang mengalir, api yang berkobar, dan virus yang datang tanpa mengucap salam. Realitas adalah kerapuhan manusia di hadapan dukkha.
Begitu sublim dan tak dinyana.
30 Maret 2020
KATA 3113
Aku telah berjalan cukup jauh saat seorang lelaki berseru, “Dengan ujung belati ini aku telah mengukir sejarah pada daging dan tulang belulang.”
Cahaya memberiku bayang panjang; mungkin itu seorang perempuan atau sisa mimpi di kepala yang lelah. Berwarna merah lembut dengan samar-samar sebuah nama, Jane Anastasia Angela Lumi.
Ah, entahlah.
24 April 2020
KATA 4361
Aku selalu membayangkan bulan memiliki empat sisi kebenaran. Yang pertama menjadi sahabat pekat malam di padang waktu. Yang kedua hanya ada dalam irama lagu cinta. Yang ketiga mengisi mimpi kanak-kanak tak berbapak. Yang keempat adalah sebab bagi segala pencarian; Sang Guru menyebutnya ankar an-nakirat.
2 Mei 2020
KATA 5833
Seperti kata Chairil Anwar, “dan duka maha tuan bertahta.”
Sedegup jantung akan membagi hidup antara kecemasan dan penghiburan. Wajah suram dan rambut acak yang mewartakan heimarmene dan keterlemparan Adam ke bumi lata dalam milyaran tahun evolusi.
Meski begitu, manusia tidak tertawa untuk yang ada dan tidak menangis untuk yang tiada. Karena meyakini keberadaan tuhan adalah urusan orang awam dan memahami ketiadaannya adalah tugas para arif.
6 Mei 2020
KATA 6504
Jika orang Yahudi tidak bisa tertawa, tuhan akan kehilangan selera untuk menepuk bahumu. Jika orang Yahudi tidak bisa tertawa, aku akan berhenti berdoa. Lalu pada siapa kau akan menceritakan bahumu, doaku, dan tawa orang Yahudi?
Jika orang Yahudi tidak bisa tertawa, kita tak akan tahu bahwa tuhan pernah tak punya nama.
Catatan:
Serangkaian kata di atas melesat di kepalaku bercampur dengan bayang wajah sahabatku Albert Piterhein Nalang. Jika beliau tak berkeberatan, kata-kata itu kupersembahkan kepadanya, setidaknya kepada wajahnya.
7 Mei 2020
KATA 7485
Bagaimana bisa ada pertanyaan seperti itu? Bukankah kita sudah sama sepakat bahwa aku menciptakan kamu dan kamu menyembahku? Bukankah kita sudah sama sepakat bahwa kamu tidak akan pernah mempertanyakan keberadaanku, apalagi dengan nada yang menggugat semua delusi ini? +)
Bagaimana bisa ada pertanyaan seperti itu?
+) Heidegger menyebut pertanyaan sebagai kesalehan berpikir.
13 Mei 2020
KATA 8372
Dia tahu, di dalam kanvas hitam itu ada doa yang membuatnya teringat pada ibunya. Perempuan tua yang mati ketika hujan. Rambutnya basah dan mulutnya menganga karena merapal doa yang sia-sia melukis iman.
Dia tahu, di dalam kanvas hitam itu doa memang ada tapi tuhan tinggal entah.
19 Mei 2020
KATA 9614
Dia mencari kakinya dalam berabad perjalanan. Tapi yang dia temukan melulu jejak alas kaki di permukaan peradaban yang disangga sabda para nabi laki-laki. Semesta boleh saja memiliki muasalnya di dalam tuhan tapi sejarah perempuan adalah perjalanan mencari kaki.+)
+) Mircea Eliade menyebutnya ‘coincidentia oppositorum’
21 Mei 2020
KATA 1406
Ternyata kita telah beranjak tua. Berdua mengukur waktu dengan sapuan mata. Juga obrolan ala kadarnya untuk mengusir rasa bosan. Menjauh dari senja dan menjadi indah dalam dosa. Lalu mati diam-diam seperti semua orang biasa.
Selamat tinggal, kawan. Sampaikan salamku pada dinda di liang neraka.
26 Mei 2020
KATA 3749
Kemiskinan telah mematahkan tulang anak-anakku; tanpa minat untuk bergandeng tangan dengan ilusi zaman dan hanya bisa hidup di atas kaki mereka yang gemetar oleh harapan serta doa yang tampak semakin sia-sia.
Kemiskinan telah membungkus anak-anakku dengan kafan khayal mereka akan harum waktu. Sementara aku, dalam rahmat kata-kata, masih terus bernegosiasi dengan samarnya kenyataan; seperih itulah kebenaran.
Maka, maafkanlah.
29 Mei 2020
KATA 7117
Pagi di depan cermin, saat aku sadar betapa lelah diri memikul tubuh rapuh ini. Perih pada perut serasa memutuskan asa hingga yang tersisa hanyalah kerinduan yang begitu purba untuk menarik napas dikali terakhir. Lalu selesailah semua.
Pagi di depan cermin, saat aku tahu dunia akan terus berlangsung tanpa harus ada aku. Betapa damai.
3 Juni 2020
KATA 2909
"In principio erat verbum."
Kita bermula dari kata dan akan kembali kepada kata. Mengulang berulang kata adalah semesta dan semesta adalah kata. Darinya tercipta jagad raya serta semua manusia, kepadanya berpulang segala ada.
Maka, demi kata...
Setelah aku mati, dan itu pasti, bakarlah jasadku dan tabur abunya di laut lepas. Hapus namaku, lupakan aku, dan jangan pernah bersedih untukku. Karena, pada saat itu, aku hanya akan berjarak sedegup jantung dari bunda Fatimah yang telah menantiku di padang suwung.
8 Juni 2020
KATA 3717
Siapakah yang berkhianat di atas meja makan kita? Segores luka ataukah jiwa-dunia?
29 Juni 2020
KATA 4529
Sang arif melihat sudut ketika orang awam mencari bintang. Dipicingkannya mata, didesiskannya suara, “Metatron, Metatron... antara tuhan dan manusia, siapakah yang tak dinyana?”
Pengetahuan ini terasa begitu sunyi sedangkan jalan telah lama ditinggalkan. Dan doa-doa, satu dari seribu dusta yang selalu kita haturkan, dengan atau tanpa pesona, merangkum cerita dari sejarah melupakan segala. Lalu semua akan kembali seperti mula adanya.
Seseorang terdengar menarik napas. Aku meniada.
6 Juli 2020
KATA 1904
Sigi, Rumi bukan puisi.
25 Agustus 2020
Amato
Catatan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi