DENGAN BENNY DAN SEBUAH IDEAL YANG TELAH TERLANJUR SALAH ALAMAT
Aku sudah lama ingin membuat catatan ini. Setidaknya sejak Benny Rhamdani turun dari jabatannya sebagai kepala BP2MI.
Tapi apa mau dikata, pada saat yang sama, sedang terjadi gemuruh pilkada di kota Kotamobagu, di mana sang politisi terlibat sepenuhnya.
Aku harus menunda tulisan ini, hingga hari ini, saat tulisan ini tidak akan dilihat sebagai dukungan, yang efektif atau tidak, terhadap salah satu pasangan calon dalam pilkada itu. Dan aku harap, dia bisa memahami itu.
Benny Rhamdani adalah politisi dalam arti yang paling telanjang dari kata itu. Sebuah kualitas kemanusiaan yang khas, seperti jika kau seorang seniman, preman, atau tukang tambal ban.
Dan, dalam caranya sendiri, Benny memainkan perannya dalam kualitas itu dengan cukup baik hingga mencapai posisinya saat ini.
Aku kira tidak banyak politisi di Sulawesi Utara dengan popularitas dan pencapaian seperti Benny. Tapi urusanku dengan Benny bukan popularitas dan pencapaiannya itu.
Urusanku, dalam tulisan ini, adalah dengan dirinya sebagai seseorang.
Sebagai politisi, Benny membingungkan aku, tapi sebagai seseorang, dia jauh lebih membingungkan. Kita biasa menghadapi orang yang menjadi sahabat saat sedang merayap dan meninggalkan kita justru ketika ada di puncak.
Pada kasus Benny, dalam hubungannya denganku, semua terbolakbalik. Siapa Benny ketika dia sedang merayap? Aku seperti melihat orang asing nun jauh di sana. Tapi begitu dia mulai menuju puncak, aku tiba tiba menjadi sahabatnya.
Tanpa banyak upacara, Benny hadir dalam hidupku. Dia, waktu itu di restoran hotel Borobudur Jakarta, seperti sedang berkata, aku sedang sukses, apa yang bisa aku bantu?
Bagaimana kau bisa bilang begitu? Aku bukan siapa siapa dan tidak pernah membantu apapun padamu. Maka setelah obrolan yang bagiku terasa aneh, Benny melepasku pulang dengan cukup uang untuk jadi turis di Jakarta.
Lalu hal yang sama terjadi berulangkali. Aku mencoba membalas rentetan kebaikan itu dengan cara yang keliru. Lalu kami terpisah oleh pilpres. Pilihan kami telak berbeda.
Aku seperti merasa berpisah jalan dengan Benny. Tapi itu urusan politik, dunia yang biasa dimamah Benny dan terlalu rumit untuk pikiranku yang lugu.
Lalu di ujung masa jabatannya sebagai kepala BP2MI, lewat seorang aktivis muda dengan pikiran tua, Benny mengirimkan aku bantuan karena tahu aku sedang terpuruk.
Aku tidak tahu bagaimana Benny berpikir. Bagaimana caranya melihat hubunganku dengannya.
Yang pasti, tanpa Benny, aku bisa jadi akan terlanjur percaya bahwa politisi tidak akan membantu dengan tulus. Persoalannya, Benny, sang politisi dalam artinya yang paling tengil itu, justru telah membatalkan kepercayaan itu.
Maka ketika aku masuk rumah sakit pada awal bulan ini dengan sisa bantuannya yang masih cukup banyak, aku tahu Benny Rhamdani orang baik.
Terima kasih, saudaraku.
Manado, 27 November 2024
Amato Assagaf
Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi