Aku tidak ingin menulis kecuali puisi
Persoalannya, aku tidak bisa memaksakan diri untuk menulis puisi. Aku hanya bisa menulis apa yang bisa aku tuliskan. Entah itu puisi atau bukan.
Terkadang seperti "akan puisi" tapi bukan. Tak jarang terbalik, gerundelan yang jadi seolah puisi hanya karena ada larik dan baitnya.
Kenapa? Karena aku hanya ingin menulis puisi, lain tidak. Sedemikian karenanya aku sering menyebut tulisan tulisanku yang bukan puisi tapi tidak sebegitu utuh untuk jadi prosa, sebagai puisi-puisi gagal.
Semacam puisi yang tidak mau jadi puisi.
Tentu kadang aku menulis prosa dengan sadar. Esai-esai yang aku sadari. Tapi sebagian besar, bersama tawaran tekno-budaya media sosial, aku menuliskannya sebagai puisi-puisi yang gagal tadi.
Pada hematku, ada dua tanda kegagalannya jadi puisi. Pertama, ada gagasan sadar. Hadir dengan jelas dan meminta dituliskan. Proses puitika, bagiku, tidak bekerja dalam cara seperti itu. Bukan gagasan yang terutama tapi lontaran kata, begitu saja kata dengan emosi dari 'pengalaman' yang mengadukaduk pikiran.
Kedua, persoalan teknis. Aku membenci kecairan bahasa dalam puisi. Aku memuja penghematan kata dalam hal ini. Itu bukan berarti puisi serba singkat tapi lebih pada bagaimana aku bisa menuliskan hanya "jiwa" itu hingga "tampak" tanpa menggunakan satu kata pun yang "tidak relevan."
Dalam puisi puisi gagal yang jadi prosa itu, aku harus menyerah pada mencairnya kata-kata karena nyaris tak ada emosi bagi 'pengalaman' yang cukup berdaya untuk mengadukaduk pikiranku. Atau, dalam bahasa yang dimistifikasi, tidak ada wahyu yang sungguh sungguh berbunyi di belakang kepalaku.
Aku tidak ingin menulis kecuali puisi.
25 November 2024
Amato Assagaf
Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi