PADA SIGI, Amato Assagaf

putriku yang diculik tuhan

Aku telah membaca wajahmu bahkan sebelum kita selesai menghitung batu-batu di meja masa lalu.

Aku mengucapkan namamu dan seluruh sejarah terserap pada ruang, seolah kebodohan merupakan bagian dari kenangan.

Aku akan selalu di sini, menunggumu dewasa, agar kau bisa mengulang cerita tentang kaki dan mimpimu di dunia kanak-kanak.

Dan dia ada di situ, ibumu, bulan pucat, agar kita punya saksi bahwa senyum bukan sekedar ampas musim.

Aku mengenalmu sebagai tubuh dari sebentuk estetika matematis dalam nada-nada tinggi.

Aku telah lama bersamamu, terlalu lama untuk membiarkan nganga neraka memahami usia.

Aku tak pernah lupa nyanyianmu di pagi hari dan apa-apa yang pernah kita sepakati di berbilang kali lahir dan mati.

Dan dia ada di situ, bapakmu, dahan patah, agar kita punya alasan untuk percaya pada semua entah.

Aku tahu, Sigi, dengan seluruh pengetahuan yang dibebankan pada setiap punggung gunung bahwa bibirmu menyimpan hasrat hampa sejak kali pertama manusia mulai memikirkan beda antara birahi dan harga diri.

Aku tahu, Sigi, lewat titik dan bisik-bisik bahwa hujan yang cemburu telah memindahkan bayangmu pada sungai-sungai yang mengalir hingga ke laut lepas dan karena itu jugalah aku akan membunuh setiap lelaki yang berdiri di dermaga.

Aku tahu, Sigi, dan tak ada yang lebih indah dari apa yang aku tahu bahwa tangismu adalah serapah bagi semua janji yang dilolongkan serigala kepada purnama.

Dan pada hari itu, hari penciptaan yang ke delapan, tuhan bunuh diri.

11 Maret 2017
Amato


Puisi di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi