PANGGUNG UNTUK JENADI, Amato Assagaf
Di atas panggung, Jenadi adalah mimpi tua
yang tak pernah bisa mati. Suaranya melengking
dari semangat yang getir. Geraknya sekelibat
duka dalam puisi-puisi Sapardi.
Dia selalu menolak untuk senantiasa ada
dengan membunuh dirinya di dalam lakonnya.
Lalu penonton tarpanggang haru, waktu berjalan
mundur, dan setiap kata yang dia ucapkan berubah
menjadi burung-burung kecil yang meneteskan
cemas dari kepak sayapnya. Tapi dia akan lahir
kembali setelah itu. Setelah lakon usai dan
kesepiannya dimulai.
Di atas panggung, Jenadi adalah tubuh yang mudah
untuk kita lupakan. Keindahan yang membunuh nafsu
makan. Kebenaran yang murung dan menjengkelkan
seperti cerita Tuhan yang terluka di bukit Golgotha.
Tapi dia bertahan. Naif bagi kebebalan kita, sengak
bagi kecemburuan kita. Menyusuri Jakarta dengan
setangkai mawar patah, dia mencari panggung untuk
sebentar melupakan satu-satunya takdir yang selalu
mengganggu tidurnya; dirinya sendiri. Di tempat itu,
di bawah cahaya, di luar dirinya, di depan berpasang-
pasang mata, dia akan menafsir ulang seluruh
pengetahuan kita tentang manusia.
Panggung untuk Jenadi adalah Karbala bagi Husain,
padang darah dan air mata.
30 Agustus 2016
Amato
Puisi di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi