PUISI UNTUK RAHMI HATTANI, Amato Assagaf

Aku hanya ingin menangis tapi
semua orang malah bicara soal hujan
seolah-olah ada yang lebih pantas
dirindukan melebihi air mata dan
bagaimana, sebagai manusia, kita
belajar untuk percaya bahwa setiap
tetesnya, setiap sengguk yang kita
haturkan mengiringinya, senantiasa
punya kuasa untuk membasuh takdir,
membersihkan bagian demi bagian
dari sejarah yang telah dititipkan
pada kita oleh hujan yang diteriakkan
semua ibu di hari kelahiran kita.

Aku hanya ingin menangis, seperti
di malam itu, ketika ibuku dibaptis
hujan dan sejarah dimulai sebagai dosa
yang ditakdirkan dari liang rahim.

5 Juli 2016
Amato


Puisi di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi