PEREMPUAN PELUKIS, Amato Assagaf
(buat Altje Wantania)
Perempuan pelukis menulis puisi
memberi sejarah pada rindunya
agar bisa dia mengulang kembali
apa yang pergi dari masa lalunya
Dia rebut kata, dia torehkan imaji
dia simpan luka dengan menyanyi
serapahnya sunyi, perihnya wangi
jejaknya tenggelam di tangis pagi
Perempuan pelukis menanti mata
untuk menafsir rangkaian petaka
tiris pada pena, lindap pada makna
dihirupnya hidup puisi yang buta
Duka perempuan di musim yang lesi
adalah duka pelukis yang tak terkata
dan saat warna mengkhianati pelangi
gigil tangannya membilang semesta
5 Juli 2016
Amato
Puisi di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi