Orang normal, Amato Assagaf

“Jadi orang normal adalah tujuan ideal orang-orang gagal.” – Carl Gustav Jung

Segelas kopi di pagi hari tidak memberi kita bayangan sepanjang kenangan. Apa yang kita simpan menjadi rahasia kita sendiri, sedangkan apa yang kita ungkapkan akan membentuk rahasia yang lain. Di situ ada kehendak akan kegilaan. Semacam harapan yang diam-diam berubah menjadi kepasrahan.

Diawali oleh pesona. Hidup yang terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Dan memang setiap kita memiliki lebih dari semata diri. Kita menyebutnya ‘yang-lain’ dan takjub oleh hubungan kita dengan semua itu. Lalu kenyataan terbentuk dan hidup mulai coba kita pahami. Sesekali gagal dan kita menjadi dewasa.

Sialnya, hanya ada sedikit dari kita yang masih terus terpesona. Yang lain sudah terlanjur tinggal dalam kenyataan segelas kopi di pagi hari. Pada mereka, hidup semata menjadi serentang perjalanan dari lalu ke nanti dan ‘aku’ menjadi apa yang ‘aku’ kenang serta apa yang ‘aku’ impikan. Karenanya mereka kehilangan kehendak akan kegilaan; sesuatu yang pernah mereka miliki di suatu masa ketika hidup masih mereka hadapi dengan terpesona.

Tapi hari ini, aku sedang tak ingin menulis puisi.

25 Februari 2021
Amato


Catatan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi