Belum ada judul 8

Sabtu kemarin, aku terbangun jam lima pagi dan membaca dua status FB yang bukan hanya tidak jelas konteksnya tapi juga tidak jelas apa maunya. Lalu aku jadi ingat gaya corat coret catatan para eksponen Fluxus.

Satu jam kemudian, aku sudah membuat status seperti itu. Tidak terlalu keren tapi lumayan tidak jelas. Dan aku hanya ingin tahu, sejauh apa kata kata bisa mengorek atau memaksakan pengertian di benak orang yang membacanya.

Status itu mendapatkan tanggapan dari seorang kawan tua, “semakin sentimental.” Aku tertawa dan membalas, “emang gw ngomongin apa sih?” Jawabannya, entah karena dia cerdas entah cuma jujur saja, “nggak ada.”

Aku sudah lama kuatir, kita tidak bisa lagi berkatakata. Kita hanya bisa memberi informasi, penjelasan, keterangan, dan segala sesuatu yang membuat bahasa hanya tinggal formalitas berkomunikasi.

Kita tidak lagi mampu, atau memang tak pernah mampu, mengapresiasi bahasa sebagai bahasa dalam susunan kata yang begitu saja ada. Kita selalu membutuhkan kata kata penuh makna dan, jika perlu, semacam petunjuk hidup bahagia.

Padahal bahasa dan kata kata menjadi penuh pesona justru ketika mereka mampu membebaskan kita sebagai manusia. Ketika mereka mampu memberi kita peluang untuk ikut terlibat di dalam setiap kemungkinannya.

Ketika kita bisa memberi makna kita sendiri pada apa yang kita baca meskipun, seperti kawan tuaku tadi, kita tahu tidak ada makna inheren di dalam tulisan itu. Atau ketika kita bisa membiarkan saja kata kata tanpa makna itu menjadi dunia kita sendiri.

Tapi, untuk sampai di tingkat yang terakhir ini, kita harus sudah terbiasa orgasme dengan bahasa, dengan kata kata.


9 Desember 2024
Amato Assagaf

Tulisan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi