MEMBACA KOTAMOBAGU DARI SUDUT MERAH, Amato Assagaf

Kotamobagu hari ini adalah bentang duka rahasiaku sebagai lelaki. Entah dengan cara bagaimana, ada coretan garis nasibku di sini. Ada belah luka, isak tangis, tapi juga senyum dan semangat serta sejenak yang tiba-tiba untuk lahir kembali. Ada titik koordinat eksistensial yang berganti menjadi janji. Juga ada satu wajah dalam berulang-ulang mimpi yang masih samar namun selalu segar. Untukku, ada yang selalu kini di kota ini.

Tapi di Kotamobagu, mimpi tidak dimulai dari atas kasur. Di sini, mimpi terbentuk bersama debu pinggir jalan dan bayangan hidup yang terberai antara rindu dan rasa ragu. Semua orang seperti sedang disibukkan oleh sesuatu yang bernilai setara dengan hidup yang mereka jalani, termasuk yang terkasih. Karenanya, di kota ini, mimpi selalu sepadan dengan pengembaraan sunyi lelaki seperti aku.

Bagi mereka yang lahir, besar dan hidup di kota ini, tampaknya Kotamobagu adalah tiga lapis warna dasar. Merah bagi hidup yang seakan terjebak entah di kebun, kantor atau bahkan kekosongan sendiri. Di dalam lapis warna ini, kita menemukan Kotamobagu sebagai sebentuk ketentuan nasib yang tak tertolak.

Kuning bagi pertautan abadi kenangan dan harapan yang tak putus mendera dan memaksa mereka untuk terus bertarung. Di dalam lapis warna ini, Kotamobagu tampaknya hadir sebagai dunia dalam kenyataannya yang paling pahit. Masa-masa ketika pengunjung seperti aku bisa mendengarkan nyanyi sunyi.

Biru bagi segala yang memanggil pulang. Yang membujuk untuk berhenti dan sejenak berleha diri di senantiasa kini. Di dalam lapis warna ini, sebentang kota seketika menjadi seperti secangkir kopi dengan senja dalam romansa kaum indie yang kini merebak di Kotamobagu.

Tapi aku lebih suka menyebut Kotamobagu sebagai kampung halaman di waktu siesta. Sebagai perbandingan, Kotamobagu tak terlalu sepadan dengan rinduku pada Boltim yang telah menjadi hias sepenggal masa laluku. Apalagi pada Manado, tanah di mana bapak dan ibuku berpeluk cinta semesta dan anak-anakku menyentuh dunia.

Meski begitu, seperti yang telah aku sebutkan, Kotamobagu hari ini menjadi lebih penting bagiku daripada apapun yang bisa aku bayangkan tentang hari esok. Dan bertaruh di tanah ini tampaknya hanya bisa dilakukan dengan mengakui bahwa selalu ada retak di dalam biografi kita sendiri. Di dalam biografiku, retak itu adalah pernyataan amor fati dari tragedi yang telah aku pilih untuk mencari diri.

Di Kotamobagu kafe tidak merebak seperti jamur di musim hujan tapi lebih tampak seperti kudis urban di ketiak kota yang gelisah. Dan salah satu kudis yang paling sering aku kunjungi adalah kafe Red Corner, milik seorang aktor indie. Nama kafe itu sendiri memberiku alasan untuk memandang.

Dari sudut (corner) sebuah ruang, kita bisa memandang seluruh ruangan. Sementara warna merah (red) adalah salah satu lapis warna yang telah aku bahas di atas. Ya, dari sudut merah inilah aku bisa melihat Kotamobagu dengan segala tawa dan tangisnya – jatuh dan bangun para penghuninya. Juga memandang bola kristal yang dilahirkan kota ini dan dibawa ke liang jantungku sebagai puisi abadi.

Dan sekarang aku ada di sini, di kota ini, sendiri dalam kembara tanpa pernah tahu kapan akan kembali pergi. Mungkin karena kini kota ini tak hanya membuat retak dalam biografiku tapi juga sebuah harapan. Maka dari sudut merah, malam itu, aku membaca Kotamobagu sebagai harapan yang tertanam di kedalaman hati nurani; jalan sunyiku yang hanya punya dua tujuan akhir, mati atau menjadi nabi.

Kotamobagu, Februari 2021
Amato


Sepertinya mulai Februari 2021 ini Amato menggunakan "aku" alih-alih "saya".

Catatan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi