REQUIEM BUAT AINA, Amato Assagaf
Memandang wajahmu hari ini
adalah mengulang kembali satu masa
ketika aku duduk dengan bapakmu
dan kau belajar membaca.
Memandang wajahmu hari ini
adalah menitipkan ingatan pada duka
dan membiarkan tangis menjadi doa
sehari setelah kau pergi.
Aina, aku tak sempat mengenalmu
kecuali lewat kenangan lamat-lamat.
Meski begitu, adakah yang lebih indah
dari harapan yang kita semai di masa lalu
dan hari ini tumbuh menjadi kenyataan?
Dalam kenyataan itu,
aku melihatmu berpose, Aina
tersenyum dan menari.
Dalam kenyataan itu,
aku melihatmu bercanda, Aina
tertawa dan menyanyi.
Dan dalam kenyataan itu pula,
aku melihatmu terbang, Aina
dengan sayap-sayap cahaya
kembali ke mula adamu.
Memandang wajahmu hari ini
telah mengingatkan aku pada nasehat purba
bahwa hidup hanyalah perjalanan pulang
yang akan terus berulang.
Memandang wajahmu hari ini
adalah memandang Aina
tersenyum dan menari
dengan seribu bintang-bintang
di langit surgawi.
13 Oktober 2020
Amato
Puisi di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi