CATATAN SEORANG PERANTAU KEPADA SAUDARANYA ORANG BOLTIM
Jika suatu hari aku pergi, saudaraku.
Aku akan mengenang Boltim sebagai tanah kelahiranku
yang memberiku seorang bapak untuk aku hormati
dan seorang ibu untuk aku cintai.
Oh, Boltim, Boltim aku akan merindukanmu.
Di Modayag aku membaca cerita
tentang batas antara yang lama
dengan yang baru. Bangunan Wuwuk, Bongkudai,
Liberia hingga Purworejo memaksaku menitip resah
sedangkan gelisah aku biarkan menunggu.
Memasuki lembah gunung Ambang dan merenungkan
Bolaang Mongondow Raya. Melihat danau Moat,
tempat waktu berhenti dan dingin menghibur diri
dengan pantulan sinar bulan yang menari di kulit air.
Di Guaan, waktu itu, Kristus kembali disalibkan.
Oh, Boltim, Boltim aku akan merindukanmu.
Di Nuangan semuanya di mulai. Merentang jarak
antara ketinggian Atoga, pohon-pohon cengkih dan
Motongkad yang terlelap. Malam menjadi panjang
ketika gelap mengendap hingga ke Matabulu.
Langkahku terhenti pada subuh yang senyap di Buyandi
ketika ibu-ibu muda menyanyikan pagi hari
dengan ujung sapu lidi sementara aku mencuri
wajah riang anak-anak kecil yang berlari di desa Bai.
Adapun Jiko, Molobog dan Idumun
telah kucatat dengan hikmat.
Maka…
Jika suatu hari aku pergi, saudaraku.
Aku akan mengenang Boltim
sebagai kampung halaman yang jauh
dengan pucuk-pucuk hijau pohonan
dan bau cengkih serta rumputan
di pagi hari.
Di Tutuyan, adalah deru ombak pantai Selatan
dan hitam pasir besi. Di situ aku menonton
anak-anak sekolah mementaskan drama
pada 2008 yang gegap gempita. Bunyi lonceng gereja
Dodap dan Ambing yang tersenyum-senyum sendiri
di batas desa Togid serta selembar harapan yang melayang
pelan-pelan ke pangkuan para Bogani abad 21. Dari
Baret dengan terik seribu siang dan suara adzan
yang mengirimkan pesan langit hingga sungai Tombolikat
yang memberiku istirahat panjang serta sebuah puisi cinta.
Anganku terhenti di batas terjauh Kayu Moyondi.
Oh, Boltim, Boltim aku akan merindukanmu.
Di Kotabunan, perjalananku menjadi api. Sebuah cerita
yang tak mau berakhir, sebuah mimpi yang menjelaskan
beda antara kata-kata dengan prosa demokrasi.
Antara Paret dan Bulawan yang memaknakan kembali
manusia Bolaang Mongondow serta sejarahnya.
Di sini modernisasi dan kapitalisme menjadi pelajaran
tentang filsafat moral. Di sini aku berdiri menghirup
angin berbau lautan dengan mata yang sayup
memandang pulau Nanas. Dan saat tiba di Buyat,
senja telah berwarna tembaga dan langit mendzikirkan
masa depan yang gemilang.
Oh, Boltim, Boltim aku akan merindukanmu.
Di sepanjang jalan Bolaang Mongondow Timur,
aku membasahi wajahku dengan sejuk air sungai
dan bagai kanak-kanak
mengulang kembali kerinduanku
pada dengung lebah serta mainan
dari pelepah pisang.
Maka…
Jika suatu hari aku pergi, saudaraku.
Aku akan mengenang Boltim
sebagai penantian yang panjang
dan cinta yang tak akan pernah berubah.
DIRGAHAYU KE-6 BOLAANG MONGONDOW TIMUR
11 Oktober 2014
Amato
Puisi di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi