MASIH SIGI DAN NANTI, Amato Assagaf

Sigi, kaki waktu yang melangkah dari rahim alam. Mahkota pengetahuan dan cinta tanpa kata-kata. Gadis kecil itu – kau di depan cermin dunia – adalah kunci untuk memulai kehendak penciptaan. Kita sekarang di sini, tanah yang entah. Seseorang telah pergi dan yang lain tinggal nama. Kematian itu berwarna biru sedangkan kau adalah hidup; putih dengan imajinasi bermata bulat.

Sigi, cerita yang dimulai pada zaman antik di Alexandria. Dua belas mil dari tempat telapak Hermes Trismegistus menandai perjalanan kita. Sebagaimana di atas begitu juga di bawah, sebagaimana denganmu begitu juga denganku. Di Magna Graeca aku menemukan jejakmu dan waktu itu fajar masih bisa bernyanyi. Lalu kita bersua dan menciptakan tuhan dalam bahasa Ibrani.

Sigi, cinta tak pernah cukup, pengetahuan telah lama padam dan manusia masih saja mengejar ilusi untuk berbahagia.

Sigi, Rumi bukan puisi.

27 Agustus 2020
Amato


Puisi di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi