Jane, Amato Assagaf

Jane Anastasia Angela Lumi adalah seorang Kristen yang baik, setidaknya dia percaya pada Trinitas; Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Begitu juga sebagai penyair, Jane tak kurang baik, dia percaya pada apa yang kita sebut "puisi" dalam trinitas "kata" (yang biasanya puitis), "makna" (yang biasanya tersembunyi), dan "rasa" (yang biasanya liar). Dan ketiganya hadir dalam 104 judul puisi pada buku kumpulan puisi terbarunya "Jalan Hati" yang diterbitkan oleh Teras Budaya, Jakarta.

Sebagai catatan untuk buku itu, saya berbahagia karena, di luar puisi-puisi Iverdixon Tinungki, ternyata ada karya penyair Sulut yang bisa membuat saya tergerak untuk menulis. Dan saya juga berbahagia karena Jane terhitung sebagai penyair dari generasi yang lebih terkemudian. Tapi justru di kedua titik inilah persoalan saya dengan puisi-puisi Jane itu muncul.

Jane, sang penyair muda, masih mengusung keyakinan iman yang seharusnya sudah menjadi fosil masa lalu dunia puisi Sulut dan, minimal untuk sebagiannya, Indonesia. Karenanya, jika pada Iverdixon dan beberapa penyair segenerasinya, keyakinan iman ini terbaca dengan keharuan yang tulus, pada Jane dan yang segenerasinya, keyakinan ini terbaca sebagai keterlanjuran yang tak harus. "Puisi" dengan tritunggal "kata," "makna," dan "rasa" tak lagi menyentuh saya kecuali sebagai semacam prasasti yang darinya kita mempelajari sejarah perpuisian. Dan itulah kenapa, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mereka, saya malas membahas puisi para penyair Sulut terkemudian, termasuk karya saya sendiri (saya berada satu generasi di bawah Jane, kira-kira seangkatan dengan pelukis Natashya Aurelya, yang lukisan-lukisannya di dalam buku itu mengingatkan saya untuk mengirimkan alfatihah buat Egon Schielle).

Lalu Jane mengirimkan pada saya buku kumpulan puisinya itu yang nyaris saya cium dan simpan di dalam lemari entah sampai kapan jika saya tak melihat sesuatu yang menarik di dalam setiap puisinya. Apa itu? "Kata-kata" yang bergetar nyaris tanpa "makna" dan menjadi asing dari seluruh badan puisinya. Kebanyakan hanya dalam beberapa larik saja tapi ada juga yang utuh dalam satu bait, misalnya, "aku punya api // dalam pijar tak mati // seribu zaman // seribu sepi // aku abadi" (bait terakhir puisi 'Kantata Buat Ri: Aku Api').

Dan aku tahu, aku harus menuliskannya. Kenapa? Karena aku telah menemukan seorang heretik atas trinitas puisi, seorang penyair muda Sulut yang jika dia berani bergerak lebih jauh dari keyakinannya akan tritunggal kata-makna-rasa, maka dia akan melukis, menyutradarai, mengaransir dan/atau mengkoreografi puisi, bukan hanya menuliskannya. Dia akan menjadi penyair dalam arti yang sesungguhnya dari kata itu, yakni seorang calon nabi atau, setidaknya, seorang calon magi. Ayolah Jane, "kau dan aku // tak lagi melihat bintang // kita harus menjadi bintang // bagi malamnya peradaban" (penggal bait terakhir puisi 'Epiphany').

Terima kasih untuk buku yang kau kirimkan dan ilham yang kau bagikan. Status ini hanya sketsa untuk 'curhat' dari sebuah tulisan yang mestinya jauh lebih panjang dan serius. Terima kasih, Jane.

22 Juni 2020
Amato


Catatan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi