Memperjuangkan Udara, Amato Assagaf

Di tengah masyarakat yang membungkus dukanya dengan pesta, apa lagi yang perlu kita perjuangkan? Ini adalah masa ketika politik adalah urusan menjadi penting bagi suatu jabatan. Ide hanyalah apa yang bisa didengar dari posisi di mana kamu berada. Karena, saat ini, ide bukan lagi apa yang dimaksud oleh kata itu sendiri tapi apa saja yang keluar dari mulut berbau bangkai para selebriti politik.

Idealnya, politik adalah urusan publik. Politisi membaca kehendak publik dan merumuskannya dalam suatu program, memasukkannya dalam agenda kerja, mengangkatnya sebagai isu, dan memperjuangkannya. Yang terjadi dalam masyarakat yang membungkus duka dengan pesta adalah sebaliknya.

Apa yang disebut kehendak publik hanyalah persoalan arah angin. Politisi bisa memainkannya jika punya sedikit kecerdasan (atau tepatnya, kelicikan) untuk menggoreng isu dari antah berantah, memasukkannya dalam agenda kerja, syukur-syukur jika bisa dijadikan program partai, tapi yang penting bisa diklaim sebagai kehendak publik.

Di tengah masyarakat yang membungkus dukanya dengan pesta, tidak ada yang peduli dengan semua itu. Karena tidak ada lagi yang peduli dengan apa saja yang harus diperjuangkan. Persoalan berjuang hanyalah persoalan mendapatkan panggung yang paling luas, paling gempita, dan paling populer. Pejuang yang sesungguhnya hanyalah para politisi di masa lalu yang begitu jauh.

Kita selalu punya nama untuk menyalahkan keadaan semacam ini. Sebut saja kapitalisme dan neolib. Atau, dalam konteks yang lebih sempit baik secara akliyah maupun secara wathaniyah, sebut saja PKI, asing dan aseng. Kita tidak pernah mau repot dengan kedalaman gagasan. Itu urusan Sjahrir dan Tan Malaka, bukan politisi zaman now yang suka mengidealkan diktator dan tidak tahu beda antara otoritas dengan otonomi.

Di tengah masyarakat yang membungkus dukanya dengan pesta, demokrasi adalah nama lain dari kesempatan menyebarkan fitnah, ketakutan, dan sentimen primordial lewat model populisme hocus pocus yang dikawal oleh bala tentara bersenjatakan hoax. Demokrasi, dalam konteks ini, adalah cara membelah bangsa.

Masih di situ, di dalam demokrasi itu, kita bisa menyaksikan munculnya para pemimpin bermental beringas dengan mulut kotor. Sebagai catatan: menggunakan istilah ‘pemimpin’ dalam kalimat terakhir ini sesungguhnya adalah penistaan berat atas konsep kepemimpinan, leadership, atau imamah.

Dan publik, siapakah mereka dalam demokrasi itu? Followers, buzzers, dan pasukan nasi bungkus. Sekumpulan orang yang dipasung oleh kesempitan wawasan, ketakutan buatan, serta jargon-jargon politik yang kosong dari pemahaman dan rasa kebangsaan. Di mulut mereka, kata ‘Indonesia’ berubah menjadi kutukan bagi kelompok yang tak sesama.

Di tengah masyarakat yang membungkus dukanya dengan pesta, kita hanya perlu memperjuangkan udara segar. Udara yang bersih dari bau mulut para politisi pemakan bangkai. Udara tempat kenangan dan harapan setiap anak bangsa bebas terbang ke mana saja untuk mengejar kebahagiaan mereka.

Manado, Maret 2018
Maharak Tatiyat
Amato


Catatan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi