UNTUK SIGI KETIKA KEMATIAN TAMPAK JAUH DI SANA, Amato Assagaf
Kematian bukanlah penderitaan bagi hasrat alamiah kita akan kelangsungan hidup. Bukan konsepsi yang begitu saja hadir bagi keberadaan kita sebagai manusia. Kematian adalah peristiwa murni; suatu peristiwa yang melampaui kemungkinan bagi setiap peristiwa sebagai proses dari "sesuatu". Suatu keharusan yang bersahaja dalam konteks hidup, bukan sebagai konsekuensinya, tapi lebih merupakan solusi.
Meski begitu, kematian melepaskan kita dari hidup. Memisahkan kita dari kecukupan. Membayangkan kita pada ketidaktahuan dan perasaan bahwa kita masih belum siap; belum cukup. Kematian hanyalah akhir dari apa yang kita awali dengan lahir, bukan lawannya. Tantangan bagi pengetahuan tentang keabadian. Batas bagi "kepastian-kepastian" yang menjadikan kita sebagai kita.
Kematian menjelaskan ilusi-ilusi meski tidak menjelaskan wilayah permainannya. "Kita semua tidur. Ketika kita mati, barulah kita bangun," kata Ali bin Abi Thalib, seorang mistikus Islam awal. Persoalannya, kenyataan pasti dari kematian tidak segagah itu dalam meyakinkan kita bahwa ada yang bersifat urgen dari kematian hingga kita membutuhkannya atau, setidaknya, harus menyambutnya lebih dari sekedar ketentuan absolut.
Bahkan kita kemudian cenderung meyakinkan diri bahwa kematian hanyalah bagian dari ilusi-ilusi itu. Dan, dengan cemas, mencoba berdamai dengannya lewat berbagai macam konsep yang berupaya "mengobati" rasa sakit kita akibat kenyataan murni itu.
Pada titik ini hidup menjadi acuan bagi pikiran untuk memulai penilaian-penilaian pada kematian dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. Pada saat itulah kematian menjadi penderitaan. Kecemasan eksistensial yang terus memburu pada saat kesadaran tidak diucapkan kecuali pada akhirnya.
Lalu, sejak titik ini, kematian menjadi tidak lagi bersahaja. Ia ingin "mengucapkan" segala-galanya tentang hidup dalam bahasanya sendiri. Ia ingin mengulangi kehidupan kita, menjadi bagian darinya. Membentuk wacana tanpa kehadiran. Kekosongan atas nama ketidaktahuan. Hasrat pada dimensi-dimensi yang paling sublim dari apa yang telah hilang bagi kita sebagai manusia.
Keunikan manusia tidak menjelaskan apa-apa soal kematian. Dan hanya satu yang kita tahu tentang itu: keentahan yang tak terbebani. Namun padanya sekaligus juga bahasa yang berupaya melampauinya dalam ketakutan khas manusia. Bayangan akan terhentinya Ada dalam lapis-lapis pengetahuan kita mengenai hal itu. Dan bahkan hasrat yang paling liar pun tak akan mendambanya kecuali lewat jalan memutar; semacam kegilaan mistis dari posisi tanpa bahasa.
Ada sendiri tak mengenal batas, tak mengenal kematian sebagai raihan terakhirnya. Adalah kita manusia yang memikirkannya sebagai "sesuatu" dan -- pada upaya niskala pelampauannya -- sebagai "segala sesuatu." Agama, produsen bahasa bagi pelampauan itu, bahkan menciptakan ilusi bagi Ada yang lain di balik kematian. Kita menerimanya sebagai hiburan yang mencengangkan atas nama rasa gundah pada putusnya ikatan-ikatan. Lalu peradaban demi peradaban dibangun untuk menegosiasikan kepastian itu sebagai definisi bagi dua kehidupan. Perahu Charon dan sebenggol perak bagi mata yang yakin dan pikiran yang tertutup.
Kenapa tak ada yang menangisi kematian ribuan serangga? Kehidupan yang tidak kita perdamaikan dengan konsepsi kita akan keberlangsungan selalu menolak yang berada di luar lingkaran. Karenanya kita menangisi anjing kecil kita yang lucu sebelum penguburannya dalam sebentuk pemahaman yang aneh akan kematian sebagai yang mengajarkan kita pada rindu. Dan kematian akan selalu datang sebagai gelap, sisi lain dari penaklukan diri yang rendah hati saat kita beranjak dari masa-masa primata dan menegakkan punggung dengan kepala penuh bahasa.
Kematian tidak mengenal catatan tambahan dalam buku tentangnya karena tidak ada yang bisa kita pendam dan munculkan atas namanya. Kematian adalah bukan-suatu sebagaimana adanya. Sejenis noumena yang begitu akrab bagi kita dari perayaan hidup tanpa memiliki fenomenanya sendiri. Das ding an sich yang hakiki.
Sebagai sebuah rahasia yang dengannya kita menjelaskan proyeksi akan kematian yang, dalam waktu, berada sebelum dan sesudah masa depan. "Kematian bukan pengalaman bagi kita," kata Epicurus, seorang bijak Yunani dari zaman kuno. Dia seperti tengah menyimpulkan masa depan sebagai catatan akan kematian kita dalam kenyataannya yang paling permukaan namun dengan kebenaran yang tidak menyenangkan.
Gema terakhir ucapan itu adalah monodi bagi Logos dalam kematian manusia. Semacam sebuah cara untuk membuat kita memiliki bahasa (terutama, tanda) bagi banyak "akhir" dalam sejarah kita. Tapi kematian bukanlah sebuah pernyataan, Sigi. Ia adalah warna bagi hidup yang harus kita pilih. Warnaku biru, warnamu apa?
Manado, 2016-2017
Amato
Catatan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi