SURAT BUAT QIARA, Amato Assagaf
dengan ucapan selamat ulang tahun yang ke-3
Bunyi hati tidak akan meninggalkan bekas luka, Qiara...
Itu mungkin kalimat paling terakhir yang bisa aku ingat hari ini. Ada di dalam bingkai dengan masa lalu yang tumbuh di taman bunga. Beberapa orang menyebutnya kenangan, aku membacanya sebagai peringatan. Di situ ada nama-nama dari orang yang kau kasihi. Dan beberapa nama lain yang semata ada untuk dipanggil. Meski yang aku mau, kau jangan pernah lagi menoleh ke belakang.
Itulah kenapa aku menulis surat pendek ini, Qiara. Dengan sebuah kalimat yang akan kau pahami kelak saat nama-nama itu sudah punya arti bagimu. Saat kau telah tumbuh jadi nona muda dan kenangan sudah bisa kau susun demi sebuah masa depan. Kita boleh menyebutnya tiang besi kehidupan, setelah revolusi industri keempat dan bangkitnya suatu zaman yang akan memberimu sepatu dan konsep berbangsa.
Kau pasti ada di situ, Qiara. Dengan atau tanpa sepatu, dengan atau tanpa sebuah bangsa. Dan kau pasti akan memulai pertanyaan yang sama yang telah diajukan oleh semua manusia di dunia. Selalu seperti itu, ketika kepalamu menyentuh langit dan bunda serta ayah menjadi nama lain dari cita-citamu. Di situ, dengan pertanyaan itu, kau akan menjadi seseorang. Berkaca dan menemukan bahwa ada saat setelah saat ini, sebuah zaman bagi seorang gadis kecil yang kelak dewasa.
Di situ, kau tidak akan lagi berlari-lari, merengek-rengek, atau terkantuk-kantuk. Di situ, kau akan membubuhkan tanda tangan, melihat dunia lewat jendela yang kau buat sendiri, dan menyebut satu dua nama yang pernah muncul dalam mimpimu seolah kau tengah terantuk pada gagasan yang membuatmu sadar pada begitu dekatnya jarak antara kenyataan hidup dan merdunya sebuah lagu.
Perempuan adalah takdir dunia, Qiara. Saat ini atau nanti, semasa kecil atau setelah dewasa, kau akan mengejar kehendakmu dan merasakan peradaban berdenyut di dalam genggamanmu. Maka melangkahlah dengan pasti karena sepi hanya milik para lelaki dan, seperti semua perempuan, kaulah lagu itu. Iramanya, ingatlah baik-baik, bermula dari semesta yang kau hirup sebagai udara dan berakhir dengan ketukan dalam hitungan gerak pikiranmu.
Dan begitulah surat ini termaktub dalam lembar yang paling purba dari apa yang bisa dilakukan seorang lelaki tua seperti aku untuk sebentar menengok ke dalam duniamu. Hanya kata-kata dari sebuah cara untuk bertahan. Dengan kalimat, nama, luka, lagu, dan seorang gadis kecil di dalam dunianya. Itulah bingkainya, sebuah hati.
Dan percayalah, bunyi hati tidak akan meninggalkan bekas luka, Qiara...
Manado, April 2018
Amato
Catatan di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi