TENTANG KOTA YANG TERBAKAR, Amato Assagaf
cerita untuk Sri Rahmillah
siapakah yang menemukan nama sebuah kota sebelum terbakar?
pelupuk mata itu tak punya tanda cinta, ia terbagi antara new york di pagi hari dan musim buah di tanah air setelah ribuan orang mengungsi dari desa-desa untuk mereguk manis dosa yang disebarkan di daerah-daerah perbatasan
sebelum menjadi kota
mungkin pada pelupuk mata itu kita akan menemukan makna kalimat-kalimat palsu yang sudah berbilang tahun menghuni kepala para urban melarat dan mencipta lengang bagi mimpi mereka tentang tuhan dengan pedang
setelah menjadi kota
mungkin kita harus bicara tentang rio de janeiro, tokyo, beijing atau bahkan menara babel dalam khayalan ibrahim ketika tuhan memerintahkan dia keluar dari kota untuk menemui sang kekasih di bibir gurun
waktu itu kita belum menuliskan nama dengan menggunakan huruf konsonan karena sebuah kota bisa berarti apa saja yang bukan dirinya jika di situ tak ada agora juga haetera dan musik jazz serta batu nisan
pelupuk mata itu telah memanggil semua yang bisa diseru dari kejauhan bukit yang biasa digunakan para nabi dan dukun-dukun bertanduk rusa di batas antara doa dan kebangkitan revolusioner kaum borjuis abad ke-19
artinya, kali ini yang kita bicarakan adalah industri, seperti asap hitam dan gemuruh mesin pabrik serta para buruh dalam perayaan paskah dengan yesus yang melintasi kota-kota di sisi kanan bapa di dalam surga
yang ada di sini kapitalisme dan roma dalam pidato cicero
dan masih kapitalisme yang sama bersama seorang gadis di ujung utara sulawesi yang mengenang kekasihnya dengan menghirup bau pantai bercampur karbon monoksida yang menyebar dari syi’ar pemanasan global
kita selalu ingin melihatnya, pelupuk mata itu
dan membayangkan bahwa masih ada orang yang bisa berjalan tegak di kota-kota yang telah kehilangan menara dan keberanian untuk bicara jujur tentang masa lalu mereka sendiri entah dengan darah, air mata atau apa saja yang seperti itu
tapi pelupuk mata itu tak suka cerita tentang air mata
hingga mungkin kita harus bicara soal api dan sihir ideologi dan permen gula asam yang menceraikan semua anak dari ibunya di sepanjang sejarah umat manusia dari masa rombongan homo sapiens pertama meninggalkan afrika
mereka menemukan api dan itu adalah kutukan dewa-dewa bagi orang-orang sombong yang mulai berpikir untuk membangun kota dengan warna kuning dan menghiasinya dengan cahaya yang menantang kepekatan malam
tak ada tahajjud di kota-kota itu karena malam hanya berarti siang yang tertunda dan kesenyapan telah dicekik oleh pesta dan musik dan beribu pasang mata yang menolak kantuk dengan pil ekstasi dan kutang dan ekonomi kreatif
lalu mereka menunjuk pada pelupuk mata itu yang basah oleh dosa putra-putri hawa di kota-kota yang mengira bahwa setiap tongkat bisa membelah laut bahwa setiap mikrofon akan melahirkan para revolusioner sejati
sukarno adalah sebuah kota yang lain
seperti setiap kota yang menciptakan peradaban mereka lewat pengkhianatan dan pembunuhan para pemimpin yang merangkul dunia atas kehendak sejarah kemarin, hari ini dan esok, dengan atau tanpa dialektika
lalu siapa yang memberimu hidung sebagus itu jika itu hanya contoh kegagalan alam untuk melukiskan manusia dalam rupa tuhan yang paling sempurna setelah ribuan firman gagal mengeja kebenaran tanpa rasa cemas
seperti duka orang lain
maka tibalah kita di jericho, aleppo, susa dan sidon sambil memunguti sejarah seperti memunguti kata-kata dari mulut perempuan-perempuan malam di red light district dengan kembang dan kenangan sepanjang jalan
adalah takdir yang memisahkan kita
setelah malam itu
setelah cinta yang gemetar
tanpa nama yang jelas untuk disapa
kecuali tanda dari pelupuk mata yang basah
di jantung sebuah kota yang terbakar
Manado, Agustus 2019
Amato
Puisi di atas diambil sepenuhnya dari Facebook Amato Dix (facebook.com/amatosaja).
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi