Menagih sesuatu yang menguap
Akhir bulan, menuju awal Juni 2026, belakangan saya mengerti kenapa kenyataan terasa lebih pahit daripada sebelumnya. Kenyataan, dan hidup, bergandengan tangan menagih sesuatu yang tidak saya miliki.
Setiap pukul 06.00 pagi saya membuka tirai jendela yang memunculkan semburat angka-angka yang besarnya bukan kepalang. Lengkap dengan tanggal-tanggal yang sudah kelewat pun yang akan datang.
Otak kanan saya ingin mencoba mengabaikan panggilan telepon yang terus berdering tak mengenal waktu! Sedang otak kiri saya ingin bergumul pekat dengan perihal luhur macam buku, memancing ikan, Tuhan, atau sekadar asap putih dari kretek yang beberapa detik kemudian melebur bersama semesta.
Hanya saja, tersebut di atas tidak mudah belaka. Seiring jarum jam mengarah pada siang hari, ruangan yang saya tempati terasa menyempit. Kubus keparat! Bikin sesak napas.
Saya tidak lagi hidup dari musim ke musim. Jauuuh lebih cepat, mencoba bertahan hidup dari detik ke detik sekadar mempertahankan kewarasan! Omong kosong apa tentang bertahan hingga akhir bulan?! Tidak ada akhir bulan. Hanya ada detik. Lain tidak.
Otak saya saling bertarung. Memunculkan ingatan bahwa Dostoyevski mengalami nasib yang agaknya tidak berbeda. Di sana saya tahu mengapa si benak kacau itu menulis The Gambler dengan amat tergesa.
Atau, Orwell barangkali juga gelisah dengan kemiskinan tatkala merampungkan Nineteen Eighty-Four. Dan pamungkasnya si keparat Bukowski yang malah mendapati kenikmatan tatkala berada di kamar gelap dan sempit, tuak Tuban murah, dan kemelaratan dengan cerita yang serupa.
Sementara yang terkini, sang nomor satu di negara ini justru sedang berbahagia mengangkat segelas tuak Tuban premium di negeri orang. Bersulang dengan mengatasnamakan bangsa dan negara. "Rakyat harus berhemat!" Terlampau mudah mengucapkannya tatkala segala kebutuhan kunjungan ke seluruh dunia ditanggung negara.
Ada lagi yang anehnya tidak main. Rakyat diminta sabar sementara kesabaran telah lama tergadaikan. Ditagih oleh para penagih keparat yang nongol batang hitungnya bersandingan dengan angka-angka dan tanggal-tanggal di tirai jendela.
Andaikan makan utang yang demikian jahanam ini bisa saya lanjutkan dengan minum tuak Tuban. Andaikan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi