Ruang raung: Hati yang tersentuh ketulusan

Saya merasakan kelembutan takdir di tengah getir kehidupan.

Di negara carut-marut dalam masyarakat materalistik, ternyata masih ada ketulusan yang benar-benar lembut. Ketulusan yang secara ajaib membikin bulir-bulir air berjatuhan dari sisi pojok mata.

Jika kalian seorang bapak, apa yang terpikir ketika anak gadis kalian yang berusia satu setengah tahun dan begitu lucu, yang pipinya merah dan harum seperti mangga matang, sedang mengalami hidung pampat lantaran pilek, dan karena hal itu pula mengakibatkan berhari-hari tidur malamnya tidak nyenyak?

Tentu, rasanya ingin benar-benar memindahkan semua sakit dan derita darinya kepada kalian. Ini menjadi ketulusan pertama.

Jika kalian seorang kakak, apa respons saat mengetahui adik perempuan kalian yang begitu polos memberikan semua uang pesangon hasil memenangkan lomba kepada pengemis ibu-ibu bersama anaknya di pinggir jalan?

Tentu, rasanya ingin benar-benar mengganti berkali-kali lipat uang itu. Bukan karena nominalnya, melainkan kerelaannya. Ini menjadi ketulusan yang kedua.

Jika kalian seorang kakak, apa sikap yang akan diambil ketika adik laki-laki kalian yang paling kecil dan begitu memahami kondisi keluarga, sedang memisah kucing bertengkar, yang tangannya kemudian digigit dan dicakar, namun saat kakaknya hendak memukul kepala kucing sialan itu, ia mengatakan bahwa untuk membiarkannya dan tidak memukul karena itu hanya kucing?

Tentu, rasanya ingin menangkap ekor kucing itu, lalu membantingnya dua puluh empat kali kemudian memutar kepalanya agar berhenti bernapas sebelum melemparnya ke kali terdekat. Ini menjadi ketulusan ketiga.

Sayangnya, oh, sungguh disayangkan. Tidak semua ketulusan dan kelembutan dapat kita berikan balasan yang setimpal saat itu juga.

Sebagai seorang bapak dan kakak yang penuh keterbatasan ini, perasaan serta keinginan memberikan yang terbaik namun tidak kunjung terwujudkan benar-benar menyiksa.

Barangkali, pekik keras dalam ruang raung tak bernama menjadi satu-satunya pereda ketidakmampuan itu. Ruangan yang hanya ada di pikiran, terhubung langsung oleh lorong ke hati.

Setelah rentetan teriakan terhenti, muncul doa aneh yang putus asa: Ya Tuhan, tak apa jika hamba sengsara asal tidak membuat Engkau murka. Namun, ya Tuhan, jangan biarkan anak hamba yang lucu, dan adik-adik hamba yang lugu, mengalami kesulitan berlebihan. Semoga Engkau tetap memberi kelembutan pada takdir mereka.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi