3 Bulan tidak mancing, dunia kita sedang tidak baik-baik saja

Mancing yang mestinya menjadi pekerjaan dan kebiasaan setiap hari, seperti sarapan, sebaiknya sehari tiga kali. Namun, sudah tiga bulan ini saya mengalami stagnasi. Berhenti total, gantung joran.

Meski saya tidak pergi mancing, dunia akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Waktu tidak akan menunggu, segalanya berjalan di jalur masing-masing. Kecuali satu, dunia saya.

Sebelum lebih jauh, mari senandungkan lirih puisi Bang Daruz Armedian ini:

Bersepakat dengan Usia (2016)

aku ingin melepas manusia dari penjara kepala ini
manusia yang selalu berharap hidup seribu tahun lagi
betapa hanya sesal kupintal
begitu tahu di sepanjang usiaku
tak bisa apa pun kulakukan kecuali kesia-siaan

harusnya aku bersepakat dengan usiaku
tak perlu memanjangkan angan-angan
hidupku tak mungkin bisa setua waktu

aku tak hendak berteriak lagi:
kenanglah aku kenanglah!

aku ingin mayatku dikuburkan
dan jejak-jejakku dimusnahkan
aku tak mau menjadi sampah
di kepala orang-orang!

Lebai, Enggak Mancing Juga Enggak Apa-Apa

Barangkali ada di antara kalian yang menganggap bahwa enggak mancing, enggak apa-apa. Dan, kemungkinan besar anggapan itu dipikirkan oleh orang yang tidak hobi mancing.

Tenang, saya sudah mengantisipasinya.

Di sini adalah area sambat pribadi saya dengan cara menulisnya. Tidak ada siapa pun yang bisa melarang tulisan saya terbit. Kalau kalian merasa tulisan ini terlampau lebai, maka bisa dengan mudah meninggalkannya.

Jadi, ada beberapa alasan mengapa gantung joran menjadi sesuatu yang benar-benar merasa perlu saya tuliskan.

1. Saya sudah mengabdikan lebih dari separuh hidup saya untuk mancing

Jika kekasih adalah belahan jiwa, maka kekasih itu adalah hobi mancing. Sejak kecil, bahkan sejak masih orok di rahim ibu, saya sudah mancing.

Apakah kalian memiliki sesuatu yang menghabiskan lebih dari separuh hidup untuk melakukannya? Bagaimana jika sesuatu itu tiba-tiba direnggut oleh kondisi yang tidak memungkinkan melakukannya lagi?

Separuh jiwa kita hilang, kosong-melompong, suwung.

Jadi, alasan itu saya pikir sudah cukup untuk menulis catatan ini. Tidak berlebihan juga jika saya menyebut nama sendiri sebagai Roem Mancing Sejakdini. Nama yang sama yang seharusnya menjadi nama anak saya, namun ditentang keras oleh bini.

2. Kondisi dunia saya yang sedang tidak baik-baik saja

Setiap orang memiliki masalah, tentu saja. Saya sudah menulis cukup panjang di dendamn.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Titik. Sampai di sini. Semua orang punya masalah, yang mana masalah tersebut bisa berdampak pada sesuatu yang penting, seperti hobi mancing.

Berhenti Mancing Tidak Selamanya, Saya akan Kembali

Guna memberi keyakinan pada diri sendiri, saya akan kembali. Saya akan segera menyelesaikan masalah, menemukan jalan keluar, dan kembali memancing dengan tenang dan santai. Semoga.

Saya cukup menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu didahulukan alih-alih keinginan egois.

Ibarat kata berpuasa. Genap 100 hari tidak mancing, kemungkinan besar akan mengubah hidup saya ke arah lebih baik.

Bukankah begitu? Puasa tidak semata-mata menahan lapar dan haus, melainkan juga keinginan.

Agama-agama di dunia juga sepakat dengan hal itu. Bahwa, untuk mendapatkan sesuatu harus mengorbankan sesuatu lain yang setara.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi